Menguak Misteri di Gunung Lawu

1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Menguak Misteri di Gunung Lawu

Gunung Lawu, salah satu gunung terkenal di tanah Jawa.  Gunung yang keindahannya sangat memesona namun menyimpan banyak misteri. Menurut legenda,  Nama Asli Gunung Lawu adalah Wukir Mahendra. 

Gunung Lawu merupakan kerajaan pertama di pulau Jawa yang dipimpin oleh raja yang dikirim dari Kahyangan karena terpana melihat keindahan alam diseputar Gunung Lawu. Sejak jaman Prabu Brawijaya V, raja Majapahit pada abad ke 15 hingga kerajaan Mataram II, berbagai upacara spiritual diselenggarakan di Gunung Lawu.

Hingga saat ini Gunung Lawu masih mempunyai ikatan yang erat dengan Keraton Surakarta dan Keraton Yogyakarta terutama pada bulan Suro. Saat itu, para kerabat Keraton sering berziarah ke tempat-tempat keramat di puncak Gunung Lawu.

Terhampar padang rumput pegunungan banjaran Festuca Nubigena mengelilingi sebuah danau gunung di kawah tua pada ketinggian 3.200 m dpl yang biasanya kering di musim kemarau. Konon, pendaki yang mandi berendam di tempat ini, segala keinginannya dapat terkabul.  Telaga ini diapit oleh puncak Hargo dumilah dengan puncak lainnya. Luas dasar telaga Kuning ini sekitar 4 Ha.


Di sana juga terdapat sebuah mata air yang disebut Sendang Drajad, sumber air ini berupa sumur dengan garis tengah 2 meter dan memiliki kedalaman 2 meter. Meskipun berada di puncak gunung sumur ini airnya tidak pernah habis atau kering walaupun diambil terus menerus.

Juga ada sebuah gua yang disebut Sumur Jolotundo menjelang puncak, gua ini gelap dan sangat curam turun ke bawah kurang lebih sedalam 5 meter. Gua ini dikeramatkan oleh masyarakat dan sering dipakai untuk bertapa.

Terdapat sebuah bangunan di sekitar puncak Argodumilah yang disebut Argo Dalem yang banyak disinggahi para peziarah. Di sekitar Hargo Dalem ini banyak terdapat bangunan dari seng yang dapat digunakan untuk bermalam dan berlindung dari hujan dan angin. Terdapat warung makanan dan minuman yang sangat membantu bagi pendaki dan pejiarah yang kelelahan, lapar, dan kedinginan. Inilah keunikan Gunung Lawu dengan ketinggian 3.265 mdpl, terdapat warung di dekat puncaknya.

Pasar Diyeng atau Pasar Setan, berupa prasasti batu yang berblok-blok, pasar ini hanya dapat dilihat secara gaib. Pasar Diyeng akan memberikan berkah bagi para pejiarah yang percaya.

Bila berada di tempat ini kemudian secara tiba-tiba kita mendengar suara “mau beli apa dik?” maka segeralah membuang uang terserah dalam jumlah berapapun, lalu petiklah daun atau rumput seolah-olah kita berbelanja.

Menurut kepercayaan masyarakat setempat, kita akan memperoleh kembalian uang dalam jumlah yang sangat banyak. Pasar Diyeng atau Pasar Setan ini terletak di dekat Hargo Dalem Pangeran Kurniandiko.

Pawom Sewu terletak di dekat pos 5 Jalur Cemoro Sewu. Tempat ini berbentuk tatanan/susunan batu yang menyerupai candi. Dulunya digunakan bertapa para abdi Raja Parabu Brawijaya V atau Pangeran Kurniandiko.

Puncak Argodumilah pada saat tertutup awan sangat indah, kita dapat menyaksikan beberapa puncak lainnya seperti pulau – pulau kecil yang dibatasi oleh lautan awan, kita merasa berada di atas awan-awan seperti di kahyangan.

Bila udara bersih tanpa awan kita bisa melihat Samudera Indonesia serta melihat pantulan matahari di Samudera Indonesia, deburan dan riak ombak Laut Selatan sepertinya sangat dekat. Sangat jelas terlihat kota Wonogiri juga kota-kota di Jawa Timur. Tampak waduk Gajah mungkur serta telaga Sarangan.

Gunung Lawu bersosok angker dan menyimpan misteri dengan tiga puncak utamanya: Argo Dalem, Argo Dumilah dan Arga Dumiling yang dimitoskan sebagai tempat sakral di Tanah Jawa.

Harga Dalem diyakini masyarakat setempat sebagai tempat pamoksan Prabu Bhrawijaya Pamungkas, Arga Dumiling diyakini sebagai tempat pamoksan Ki Sabdopalon, dan Argo Dumilah merupakan tempat yang penuh misteri yang sering dipergunakan sebagai ajang olah batin dan meditasi oleh Pangeran Kurniandiko.

Konon kabarnya gunung Lawu merupakan pusat kegiatan spiritual di Tanah Jawa dan ada hubungan dekat dengan tradisi dan budaya keraton, semisal upacara labuhan setiap bulan Sura (muharam) yang dilakukan oleh Keraton Yogyakarta.

Dari visi folklore, ada kisah mitologi setempat yang menarik dan menyakinkan siapa sebenarnya penguasa gunung Lawu dan mengapa tempat itu begitu berwibawa dan berkesan angker bagi penduduk setempat atau siapa saja yang bermaksud tetirah dan mesanggrah.

Siapapun yang hendak pergi ke puncaknya, bekal pengetahuan utama adalah tabu-tabu dan peraturan-peraturan yang tertulis yakni larangan-larangan untuk tidak melakukan sesuatu, baik bersifat perbuatan maupun perkataan, dan bila pantangan itu dilanggar di pelaku diyakini bakal bernasib naas.

Tempat-tempat lain yang diyakini misterius oleh penduduk setempat selain tiga puncak tersebut yakni: Sendang Inten, Sendang Drajat, Sendang Panguripan, Sumur Jalatunda, Kawah Candradimuka, Repat Kepanasan/Cakrasurya, dan Pringgondani.

Gunung Lawu terletak di ketinggian 3.265 meter di atas permukaan laut (Mdpl ). Di sekitar areal Gunung Lawu ini masih tersimpan berbagai peninggalan sejarah akhir masa Kerajaan Majapahit, seperti Candi Cetho dan Candi Sukuh yang merupakan peninggalan Prabu Brawijaya V selama dalam pelariannya menghindari kejaran anak sendiri yang juga pendiri Kerajaan Demak. Selain itu, tempat yang bisa dikunjungi selain puncak Hargo Dalem dan Hargo Dumilah adalah Sendang Panguripan dan Sendang Drajat.

Sendang Panguripan memiliki sumber mata air yang sering digunakan para peziarah dan para pendaki gunung sebagai sumber air bersih. Demikian juga dengan Sendang Drajat yang airnya diyakini mampu menyembuhkan berbagai penyakit, tentu saja atas seizin Tuhan Yang Maha Kuasa.

Dari puncak Gunung Lawu ini selain bisa melihat langsung terbitnya Matahari, bisa secara langsung melihat puncak Gunung Merapi dan Merbabu. Dan, dari arah timur tampak puncak Gunung Kelud serta Gunung Wilis di Jawa Timur.

Selain itu, Gunung Lawu memikili karasteristik yang unik. Meski bukan termasuk jajaran gunung tertinggi di Pulau Jawa, suhu di puncak Lawu dirasa paling dingin. Saat musim kemarau, suhunya bisa mencapai minus 5 derajat Celsius.

Bagaimana situasi Majapahit sepeninggak Sang Prabu? Konon sebagai yang menjalankan tugas kerajan adalah Pangeran Katong. Figur ini dimitoskan sebagai orang yang sakti dan konon juga muksa di Ponorogo yang juga masih wilayah gunung Lawu lereng Tenggara. 

Wallahu A’lam bis-Shawab.

BACA JUGA:  Siklus ke 5 dari Peradaban Umat Manusia


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *