Pangeran Perang

Artikel ini adalah lanjutan dari Trisula Wedha sebagai Senjata

Pangeran PerangJayabaya sudah meramalkan keadaan masyarakat Jawa (Indonesia) yang akan dikuasai nafsu dunia dan nafsu syetan.

Hal ini kemudian yang menyebabkan terjadinya aneka kehancuran di segala bidang kehidupan baik perorangan (individu) keluarga di rumah tangga, masyarakat dan pemerintahan.

Penggambaran ini dapat dibaca sendiri pada bait 140 sampai dengan 158. Penulis tidak menguraikan karena bukan menjadi pokok kajian.

Dalam ramalan Jayabaya bait 162 baris ke 6 – 10 sebagai berikut:


sing madhegani putrane Bethara Indra
agegaman trisula wedha
momongane padha dadi nayaka perang
perange tanpa bala
sakti mandraguna tanpa aji-aji

yang memimpin adalah putera Bathara Indra
bersenjatakan trisula wedha
para asuhannya menjadi perwira perang
jika berperang tanpa pasukan
sakti mandraguna tanpa azimat

Penjelasannya:

Pesan yang disampaikan sangat jelas bahwa Satrio Piningit memiliki anak asuh. Anak asuhnya dianggap sebagai anaknya sendiri sedang anak asuhnya itu menganggap Satrio Piningit adalah bapak sendiri. Tidak ada kekhawatiran sedikitpun akan terjadinya penghianatan selama berlangsungnya perang mengingat hubungan mereka itu layaknya sebagai anak kandung sendiri dengan bapak kandung.

Karena itu anak-anak asuhnya semua dijadikan sebagai perwira perang. Satrio Piningit adalah panglima perangnya (pangeran perang). Anak asuhnya juga menjadikan trisula wedha sebagai sumber kekuatannya. Satrio Piningit menurunkan kekuatannya kepada anak asuhnya tanpa diketahui oleh anak asuhnya itu. Medan peperangan adalah medan gaib (tidak diketahui) oleh seluruh ummat manusia.

Bait 166 baris ke 8-9 sebagai berikut:

tan karsa sinuyudan wong sak tanah jawa
nanging inung pilih-pilih sapa
tidak mau dihormati orang setanah jawa
tetapi hanya memilih beberapa saja

Penjelasannya: Dalam kitab musarar Jayabaya No. 28 sudah disebutkan “kedatonnya dua di Mekah dan tanah Jawa”. Posisi Mekah berada di Timur tengah. “Tidak mau dihormati orang setanah jawa tetapi hanya memilih beberapa saja”.

Kata beberapa artinya lebih dari satu orang. Sebagaimana yang kita ketahui bahwa tanah jawa terdiri atas Jawa Timur, Jawa Tengah dan Jawa Barat. Kemungkinan anak asuhnya satu orang berasal dari Jawa Timur, dan satu orang berasal dari Jawa Tengah.

Untuk menarik garis ke posisi kedatonnya di Mekah yang berada pada kelompok negara-negara di Timur Tengah. Jawa Barat patut dikesampingkan karena tidak relevan dengan kitab musarar Jayabaya.

Bait 171 baris ke 9 – 13 sebagai berikut:

ana manungso kaiden ketemu
uga ana jalma sing durung mangsane
aja sirik aja gela
iku dudu wektunira
nganggo simbul ratu tanpa makutha

ada manusia yang bisa bertemu
tapi ada manusia yang belum saatnya
jangan iri dan kecewa
itu bukan waktu anda
memakai lambang ratu tanpa mahkota

Penjelasannya:

“Ada manusia yang bisa bertemu” maksudnya manusia itu adalah anak asuh Satrio Piningit sendiri. “Tetapi ada manusia yang belum saatnya” maksudnya adalah orang-orang diluar anak asuhnya saat ini. “jangan iri dan kecewa. Itu bukan waktu anda” maksudnya akan ada juga waktu orang-orang (diluar anak asuhnya) yang dapat bertemu dia. “memakai lambang ratu tanpa mahkota” maksudnya perwira perang Satrio Piningit yang tidak diketahui orang (tanpa mahkota).

Satrio Piningit memiliki beberapa orang anak asuh. Entah berapa orang jumlahnya. Orang-orang (individu-individu) bersatu dalam satu kelompok “persaudaraan”. Mereka semua memiliki derajat yang sama sebagai perwira perang. Mereka memiliki sumber kekuatan/persenjataan yang sama yaitu “trisula wedha” pemberian bapak asuhnya.

Selama masih dalam status perang Satrio Piningit tidak mungkin bisa diketemukan karena dia dikelilingi oleh para perwira-perwira perangnya. Jika perang telah usai dan kemenangan di pihak Satrio Piningit itu berarti kemenangan dipihak orang banyak (rakyat). Saat itulah Satrio Piningit diketahui orang dan tentu saja semua anak asuhnya itu bisa juga kita ketahui.

Dipertegas kembali bahwa perang yang dilakoni oleh Satrio Piningit (pangeran perang / panglima perang) dengan para anak asuhnya (perwira perang) adalah perang di dunia gaib. Kita semua tidak tahu. Hanya mereka saja yang tahu perang macam apa yang mereka alami. Biarlah semua itu menjadi urusan mereka sendiri. Mereka hanya menjalani suratan takdirnya dari Tuhan Yang Maha Kuasa.

Untuk membenarkan bahwa perang itu berlangsung di dunia gaib, maka Jayabaya dengan indah menuliskan ramalannya.

bait 162 baris ke 9 dan bait 173 baris 1-2 sbb:

perange tanpa bala
Jika berperang tanpa pasukan

nglurung tanpa bala
yen menang tan ngasorake liyan
menyerang tanpa pasukan
bila menang tak menghina orang lain.

Jayabaya sudah meramalkan perang di dunia gaib ini. Jika berperang tanpa pasukan. Menyerang tanpa pasukan maksudnya tidak ada pasukan yang membantunya. Anak asuh Satrio Piningit tidak bisa dikatakan sebagai pasukan karena Jayabaya sudah menempatkan mereka sebagai perwira perang. Artinya perwira perang dan panglima perang satu kesatuan yang menjadi satu sebagai anak dan bapaknya.

Mungkin bapak akan berkata pada anaknya “kamu adalah aku tapi aku bukan kamu” maksudnya “kamu berperang bersama aku berarti kita satu tapi kamu perwira perang dan aku panglima perangnya”. Tidak akan mungkin terjadi penghianatan di antara mereka. Lawan mereka adalah Iblis Laknatullah. “bila menang tak menghina yang lain”. Siapa yang mau dihina ? Tidak dihina juga memang iblis sudah hina.

Semua manusia mengetahui iblis ada meski tidak dilihat. Manusia juga tahu bahwa iblis menyesatkan manusia dari jalan yang lurus agar menemaninya di neraka.

Satrio Piningit menulis artikel SATRIO PININGIT TELAH MUNCUL tujuannya agar manusia juga tahu bahwa dia sudah ada (muncul) meski tidak dilihat. Dia ditugaskan oleh Tuhan untuk melawan iblis agar manusia berjalan di atas jalan yang lurus. Jalan yang dikehendaki Allah. Apakah ada sesuatu yang salah ? Mungkin saja ada manusia yang tidak suka atau membenci artikel itu tapi bukan berarti artikel itu salah.

Manusialah yang tidak faham. Manusialah yang memiliki kesombongan. Manusialah yang salah karena telah melakukan perbuatan yang melampaui batas. Iblis yang berbisik di hati manusia untuk menolak kebenaran artikel itu. Iblis menjadikan manusia sebagai tempat berlindung dari serangan Satrio Piningit. Orang Bali menyebutnya sebagai “perang puputan” yang artinya perang habis-habisan.

Bersambung…

BACA JUGA:  Misteri Danau Purba di Candi Borobudur

4 TANGGAPAN untuk “Pangeran Perang

  1. Satria pininggit adalah kesatria yg lurus dan adil berada di garis jalan yg di ridoi allah swt,mempunyai sifat,sidiq,amanah dan tabliq,di sinari nur muhamad,berjalan sendiri menelusi lautan,menyampaikan ke semua alam gaib agar bisa bersatu padu,untuk menciptakan kedamaian di alam dunia,tanpa di ketahui oleh siapapun,hanya leluhur nya yg selalu mendampigi,menjalani sariat islam,keberadaanya tdk di ketahui oleh siapun,sehingga di terima di dua alam nyata dan goib.suatu sat pst akan tercipta kedamaian,kini sedang menyaksikan alam nyata yg tak lagi ramah,hingga banyak manusia yg serakah akan Nafsu nya,suatu sat akan sirnah pergantian hari dan tahun,akan terbukti hukum nyata di dunia dgn apa yg kita perbuat

    View Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *