Misteri Diamnya Pak Harto

BILIKMISTERI.WEB.ID – Perkenalan Suharto pertama kali dengan militer adalah di KNIL. Awalnya ia ingin melamar jadi Angkatan Laut, jadi seorang kelasi. Hal ini ia lakukan karena melihat seorang kelasi sedang berlibur di Yogya dan amat gagah.

misteri-diamnya-pak-hartoNamun keinginannya saat menjadi kelasi ia urungkan ketika ia mendaftar ke Angkatan Laut Hindia Belanda, soalnya ia mendengar bahwa lowongan yang dibuka hanya sebagai juru masak.

Sekeluarnya dari pendaftaran kelasi Angkatan Laut, tanpa sengaja ia mendengar bahwa KNIL membuka pendaftaran. Ia amat berminat kejadian itu sekitar akhir tahun 1939 atau awal 1940. Saat itu Hindia Belanda sedang membutuhkan tenaga perang sekitar 35.000 orang pribumi.

Saat itu memang berkembang wacana bahwa kemungkinan Jepang masuk ke Hindia Belanda dan tak mungkin berhadapan dengan Jepang sendirian, seperti di Filipina yang sedang mempersiapkan perlawanan rakyat, maka Belanda harus mempersiapkan pribumi untuk militerisasi demi menghadapi serbuan Jepang.

Tampaknya wacana militerisasi kaum pribumi menjadi mentah, karena militerisasi ini hanya akan menjadikan ‘senjata makan tuan’ bagi Belanda kelak dikemudian hari. Akhirnya kaum pribumi dibatalkan untuk menghadapi Jepang. Ratusan ribu senjata yang sedianya digunakan untuk perang disembunyikan dan Pemerintahan Hindia Belanda memilih lari ke Australia.


Suharto masuk dalam program militerisasi besar-besaran itu dan ia lulus sebagai yang terbaik tiga tahun kemudian, tak lama kemudian Jepang masuk.

Ada cerita menarik ketika Suharto ingin masuk KNIL. Ia ngangon dua kerbaunya di ladang tebu dan bertemu sepupunya Sukardjo Wilardjito.

Sukardjo bercerita, “Mas Harto pamit dengan saya untuk masuk tentara karena ia tak sempat bertemu dengan ayah Sukardjo yang kebetulan adalah Paman Suharto dan seorang Lurah di Rewulu, Yogyakarta.”
“Kebetulan Dik, kita bertemu disini sehingga aku tak perlu ke rumahmu” katanya kepada Sukardjo.
“Ada apa sih Mas, kok rupanya penting sekali” jawab Sukardjo sambil mengerat tebu. “Penting sih tidak, cuma mau minta pamit”.
“Memang mau kemana sih mas?”
“Aku akan masuk Kumpeni,” kata Suharto.
“Sekolahan?”
“Aku sudah berhenti sekolah kok” Sukardjo heran lantas bertanya, “Padahal kudengar Mas Harto sudah kelas tiga MULO (SMP), tidak tunggu nanti kalau tamat saja?”

Suharto pamit kepada sepupunya untuk menjadi serdadu di Purworejo, Jawa Tengah dan menghentikan sekolahnya. Percakapan ini menjadi penting bukan saja karena dua orang ini memiliki hubungan saudara, tapi karena kelak dua orang ini di tahun 1966 berhadapan di sisi yang berlainan.

Suharto memerintahkan Jenderalnya yang disebut ada tiga orang: Mayjen Amircmachmud, Mayjen M Jusuf dan Mayjen Basuki Rachmat untuk meminta surat perintah kekuasaan menertibkan keadaan.

Sementara di pihak lain sepupunya Sukardjo Wilardjito yang saat itu berpangkat Letnan Satu menjadi ajudan Bung Karno. Dan menurut pengakuannya, dia menyaksikan sendiri bagaimana Bung Karno ditodong senjata oleh seorang Jenderal yang ia sebut sebagai Mayjen Panggabean.

Jenderal keempat dalam urusan Supersemar ini sempat heboh di awal tahun 2000, dan sampai sekarang kronologis SP 11 Maret 1966 menjadi berita paling menghebohkan.

Namun seperti biasa berita ini tetap dimenangkan oleh pembela Suharto yang mau tak mau Suharto telah memenangkan sejarah dengan memasukkan SP 11 Maret 1966 sebagai tonggak penting konstitusi di Indonesia.

Sukardjo kemudian diburu dan dipenjara bahkan sempat dibuang ke luar Jawa, namun selalu urung dibunuh apakah karena mungkin ia sepupu Suharto? Yang jelas disini Suharto bisa amat dingin membedakan mana saudara, mana politik.

Inilah yang kemudian membuat Suharto memang merupakan Jenderal Berdarah Dingin, dan memiliki kepribadian lebih kuat apalagi hanya dibandingkan dengan Nasution yang cenderung lemah.

Kemampuan Suharto dalam memenangkan sejarah ini tak lepas dari kepribadiannya yang teliti sebelum mengambil tindakan dan mengamati. Salah satu modal psikologis dalam memenangkan setiap pertempurannya adalah ia amat “pendiam”.

Rosihan Anwar, wartawan senior Republikein yang pernah bersama Suharto tahun 1949 pernah menceritakan hal itu. “Saya berjalan berjam-jam dengan Suharto untuk menemui Jenderal Sudirman dan diantar oleh dia, tapi sekalipun ia tidak bicara. Ia hanya menyetir mobil lalu masuk pedesaan.

Ia juga memetik kelapa dan satu-satunya ucapan yang ia katakan pada saya adalah “silahkan diminum” ketika menawari air degan (degan=kelapa muda). Ia adalah orang yang ‘kulino meneng’ (terbiasa berdiam diri),” sebut Rosihan menjuluki watak Suharto.

Kelak di tahun 1974 surat kabar Rosihan Anwar ‘Pedoman’ dibredel Pemerintahan Suharto, ketika Mashuri bertanya bagaimana nasib Pedoman pasca peristiwa Malari 1974, Suharto menjawab sinis, “Wis dipateni wae (sudah dibunuh saja)”.

Jelas ini menunjukkan Suharto amat dingin terhadap orang yang ia kenal dimasa lalu. Ia lebih mementingkan tujuan dalam mengerjakan sesuatu ketimbang kehangatan hubungan antar manusia.

Diam Suharto itu, kata Rosihan Anwar, modal dan itu adalah prinsipnya. Dengan filsafat diam ia membangun kekuasaannya dengan begitu perkasa dan tidak pernah terkalahkan oleh kekuatan politik lokal apapun. Namun ironisnya, kekuasaan Orde Baru yang begitu besar justru jatuh karena paradoks-paradoks masyarakat yang dibangunnya.

Begitu juga dengan kekejamannya, korupsi bahkan lebih jauh lagi merubah secara fundamental haluan bangsa ini yang diarahkan oleh founding fathers sebagai negara kesejahteraan bersama menjadi negara milik kaum kroni, mungkin sampai detik ini.

BACA JUGA:  Misteri Patih Gajah Mada dan Majapahit Dalam Al-Quran


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *