Trisula Wedha Sebagai Senjata

1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Artikel ini adalah lanjutan dari Makna Trisula Weda

Trisula Wedha Sebagai SenjataArtikel mengatakan “SATRIO PININGIT TELAH MUNCUL” dengan membawa senjata “Trisula Wedha” yaitu laku perbuatan Satrio Piningit sebagai Imam Mahdi, Yesus Kristus dan Nabi Isa.

Seharusnya masalah ini tidak perlu diributkan atau dipermasalahkan mengingat senjata yang digunakan Satrio Piningit dimensinya gaib dan peruntukannya tentunya juga gaib. Dan hal ini jauh sebelumnya sudah diramalkan oleh Jayabaya yaitu:

a. Imam Mahdi

Dalam kitab “Musarar Jayabaya” No. 27 disebutkan: “Kemudian kelak akan datang Tanjung Putih Semune Pudak kesungsang. Lahir di bumi Mekah. Menjadi raja di dunia, bergelar Ratu Amison, redahlah kesengsaraan di bumi, nahkoda ikut kedalam persidangan”

Tanjung putih semune pudak kesungsang artinya: Raja berhati putih namun masih tersembunyi (Satrio Piningit). Lahir di bumi Mekah, maksudnya Satrio Piningit beragama islam dan menguasai Tauhid murni. Kata lahir di Mekah merujuk pada hadits nabi Muhammad bahwa Imam Mahdi lahir di Mekah dan dari garis keturunan nabi Muhammad.


No. 28 kitab “musarar Jayabaya menyebutkan:

“Raja keturunan waliyullah. Berkedaton dua di Mekah dan tanah Jawa. Letaknya dekat dengan gunung perahu, sebelah barat tempuran. Dicintai pasukannya. Memang raja yang terkenal sedunia.”

Maksudnya; Berkedaton di Mekah adalah peran gaib dia sebagai Imam Mahdi. Berkedaton di tanah Jawa adalah Satrio Piningit berdarah Jawa dari garis ibunya. Dicintai pasukannya maksudnya pasukan gaib Imam Mahdi. Memang raja yang terkenal sedunia maksudnya adalah Imam Mahdi sudah terkenal oleh orang-orang islam sedunia.

No. 29 kitab “Musarar Jayabaya” menyebutkan:

“Waktu itu ada keadilan, Rakyat pajaknya dinar sebab saya diberi hidangan bunga seruni oleh Ki Ajar. Waktu itu pemerintahan raja baik sekali. Orangnya tampan senyumnya manis sekali”.

Maksudnya Satrio Piningit dalam perannya sebagai Imam Mahdi menetapkan keadilan kepada rakyatnya yang juga adalah masyarakat gaib (mahluk halus, syetan dan jin).

Waktu itu pemerintahan raja baik sekali maksudnya semua masyarakat gaib tunduk kepada perintah Imam Mahdi. Orangnya tampan senyumnya manis sekali. Maksudnya Satrio Piningit (Imam Mahdi) tampan sebagai seorang laki-laki yang gagah perkasa dan sangat susah untuk tersenyum.

Senyumnya manis sekali maksudnya jika Satrio Piningit (Imam Mahdi) sudah memperlihatkan senyumnya maka pertanda masyarakatnya (mahluk halus, syetan dan jin) sudah tertib mengikuti apa yang dia kehendaki. Jika perintahnya tidak dituruti maka dia akan memperlihatkan kemurkaannya.

“Orangnya tampan senyumnya manis sekali dimaksudkan sebagai satu upaya untuk menutupi wajahnya yang geram, keras dan susah memperlihatkan senyumnya.” Hal itu lumrah bagi seorang raja yang harus memerintah secara adil. Dia harus ditakuti sekaligus harus dicintai oleh rakyat gaibnya.

Dalam “Bait Terakhir Ramalan Jayabaya”, Laku Peran Satrio Piningit sebagai Imam Mahdi ditulis pada ramalan No. 162 baris 6-7 sebagai berikut:

Sing madhegani putrane Bethara Indra
agegaman trisula weda
Yang memimpin perang adalah putera Bathara Indra
bersenjatakan trisula weda

Dan pada bait No. 163 baris pertama dikatakan:
apeparap pangeraning prang
bergelar pangeran perang

Maksudnya; “putera Bathara Indra, bergelar pangeran perang” adalah identitas Imam Mahdi yang dilakoni oleh Satrio Piningit. Merujuk kepada hadits nabi Muhammad SAW; Imam Mahdi akan memimpin perang menghancurkan segala bentuk-bentuk kebatilan dan kemungkaran.

b. Yesus Kristus dan Nabi Isa

Laku dan peran Satrio Piningit sebagai Yesus Kristus dan Nabi Isa sudah digambarkan dan disampaikan dalam ramalan bait No. 159 baris ke 1-7 sbb:

Selet-selete yen mbesuk ngancik tutupin tahun
sinungkalan dewa wolu, ngasta manggalaning ratu
bakal ana dewa ngejawantah
apengawak manungsa
apasurya padha bethara Kresna
awatak Baladewa
agegaman trisula wedha

selambat-lambatnya kelak menjelang tutup tahun
didampingi dewa delapan serta membawa perwiranya ratu
akan ada dewa tampil
berbadan manusia
berparas seperti Bathara Kresna
berwatak seperti Baladewa
bersenjata trisula wedha

Maksudnya:

“Selambat-lambatnya menjelang tutup tahun” merujuk tanggal 25 desember (sebelum tutup tahun) ummat manusia (nasrani) merayakan perayaan natal yaitu hari lahirnya Yesus Kristus, yang selalu diperingati menjelang tutup tahun. “didampingi dewa delapan serta membawa perwiranya ratu” Kata ratu merujuk pada sosok bunda Maria/Sitti Maryam.

Selanjutnya, “akan ada dewa tampil berbadan manusia” merujuk pada sosok nyata (manusia) Satrio Piningit. “berparas seperti Bathara Kresna. Berwatak seperti Baladewa” merujuk pada peran Satrio Piningit sebagai Yesus Kristus dan Nabi Isa. “Bersenjatakan trisula wedha” merujuk pada persamaan senjata yang dibawa oleh Putera Bathara Indra (Imam Mahdi).

Alqur’an tidak membenarkan rekaan manusia terhadap wajah Yesus Kristus dan Nabi Isa dan membantah watak Yesus Kristus sebagai anak Allah. Alqur’an hanya mengakui Nabi Isa sebagai anak Maryam.

Jauh-jauh hari sebelumnya Jayabaya sudah meramalkan bahwa Satrio Piningit akan melakoni peran dia sebagai Yesus Kristus dan Nabi Isa agar manusia berhenti mempermasalahkannya karena Yesus Kristus dan Nabi Isa adalah menjadi urusan dan rahasia Tuhan.

Allah membantah dan mengingkari tuduhan manusia yang mengatakan Allah memiliki anak. Allah tidak memiliki anak. Allah tidak beranak dan tidak diperanakkan. Untuk mengahiri fitnah keji manusia terhadap Allah maka Allah menciptakan hambaNya.

Seorang laki-laki pemberani (Satrio=Ksatria) untuk menyelesaikan permasalahan pelik ini dengan jalan perang. Satrio dalam laku peran dia sebagai Imam Mahdi mendapat perintah untuk memerangi iblis laknatullah beserta seluruh pasukan dan bala tentaranya.

Karena iblis yang menyebabkan manusia bermusuh-musuhan, berselisih pendapat dalam memahami sosok Yesus Kristus dan Nabi Isa. Iblis yang memutarbalikkan fakta dan mengajari manusia agar menuduh Allah memiliki anak yaitu Yesus Kristus.

KeMaha Sucian Allah dinodai oleh dusta iblis. Satrio Piningit ditugaskan untuk membersihkan noda itu. Allah menghendaki seluruh manusia tunduk dan mengakui Allah sebagai Tuhan. Tuhan yang sendiri.

Tuhan yang tidak memiliki anak. Tuhan yang tidak diperanakkan. Tuhan yang tidak memiliki sekutu atau mitra dalam kedudukan Dia sebagai Tuhan Semesta Alam. Satrio Piningit diperintahkan mempersatukan seluruh agama-agama baik agama langit maupun agama bumi.

Jayabaya dalam ramalan bait No. 164 baris ke 3 dan bait 167 baris ke 9:

mumpuni sakabehing laku
ngerti garise siji-sijining umat

menguasai seluruh ajaran (ngelmu)
mengerti garis hidup setiap umat

Allah memberikan ilmu-Nya kepada Satrio Piningit dalam laku peran dia sebagai Imam Mahdi agar memenangi semua peperangan yang dia hadapi. Ilmu sakti yang Allah berikan kepada Sang Pangeran Perang adalah ilmu yang belum pernah diberikan kepada siapapun sebelumnya.

Jayabaya menyebut dalam ramalan bait No. 162 baris ke 10 sebagai berikut:
sakti mandraguna tanpa aji-aji
sakti mandraguna tanpa azimat
Selain tanpa azimat juga tanpa mantra-mantra tanpa bacaan dan doa-doa. Dialah ksatria (satrio) yang bergelar pangeran perang.

Dari hasil kajian di atas maka dapat disimpulkan bahwa artikel SATRIO PININGIT TELAH MUNCUL yang menyebut trisula wedha adalah “Imam Mahdi, Yesus Kristus dan Nabi Isa” dapat dibenarkan karena sudah sesuai dengan ramalan Jayabaya. Sebutan putera Bathara Indra merujuk pada Imam Mahdi. Berparas seperti Bathara Kresna dan berwatak seperti Baladewa merujuk pada Yesus Kristus dan Nabi Isa.

Artikel SATRIO PININGIT TELAH MUNCUL ditulis oleh Satrio Piningit yang sejati karena sebahagian besar materi tulisannya adalah history penulisnya sendiri.

Dapat dibenarkan jika penulisnya tidak menunjukkan identitasnya mengingat pesan-pesan yang disampaikan semuanya berada pada tataran dimensi gaib, bukan untuk kita manusia yang nyata ini. Tapi penulisnya hanya sekedar ingin memberi tahu kita bahwa SATRIO PININGIT TELAH MUNCUL. Dia berada di sekitar kita.

Oleh: Yaman Al Bughury

BACA JUGA:  Kisah Misteri : Demi Anak Aku Kawin dengan Genderuwo


2 TANGGAPAN untuk “Trisula Wedha Sebagai Senjata

  1. jika allah berfirman maka semuanya akan terjadi,jika allah berfirman “hancurlah dunia ” maka terjadilah demikian. lalu kenapa allah disangkal telah memiliki seorang keturunan jika allah sendiri bisa berfirman sedahsyat tadi,hanya menggunakan firman ? apakah yang dipikirkan umat islam tentang hal ini hanya membuat suatu keturunan hanya bisa melalui hubungan intim ? Saya rasa begitu ! semua teman saya menanyakan tentang apakah yesus adalah anak allah ? dengam senyum mengejek,saat mereka tersenyum saya bilang KALIAN MESUM ! PIKIRAN KALIAN SEMPIT !

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *