Misteri Supermoon Pembawa Petaka

BILIKMISTERI.WEB.ID – Pola pikir astrolog yang mengaitkan fenomena benda langit dengan ramalan, nasib manusia atau kejadian di Bumi tentu saja berbeda dengan pendapat para astronom dan ilmuwan yang berdasar pada sains. Dan tingginya korelasi tidak selalu berarti sebab akibat.

Kaitan antara supermoon dan bencana ditepis kuat-kuat oleh Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan), Dengan ramalan bencana sesungguhnya tidak kaitannya. Memang pada saat purnama, beberapa potensi bencana ada, tapi tidak selalu. Kecuali ada hal lain yang memperkuat.

Supermoon bukan berarti bencana. Pun dengan kejadian Tsunami Aceh 2004, yang terjadi terjadi 2 pekan sebelum supermoon 10 Januari 2005. Kalau 2 minggu sebelumnya, posisi bulan bukan supermoon. Tapi hanya purnama biasa.

Memang, bagi orang yang mempercayainya, supermoon bisa dikaitkan dengan bencana. Padahal, dampak yang utama hanya pasang surut air laut. Efek lain mempengaruhi rotasi bumi, tapi kecil sekali nol koma sekian persen.

BACA JUGA:  Asal Muasal Bukit Gombel

Ditambahkan astronom itu, ‘supermoon’ adalah bahasa astrologi. Bahasa astronominya disebut purnama terbesar (lunar perigee). Karena Bulan berada pada jarak terdekat dengan Bumi saat purnama tersebut.


Pendapat yang sama juga diutarakan pakar gempa dari Puslit Geoteknologi LIPI, Danny Hilman Natawidjaja. Tak ada bukti ilmiah keterkaitan supermoon dengan bencana khususnya gempa dan tsunami. Tak ada dasar ilmiah yang jelas, selain hanya gravitasi bulan yang sedikit lebih besar dari biasanya.

Namun yang jelas, ‘mitos abadi’ bahwa purnama atau supermoon berkaitan dengan bencana selalu bikin orang panik. Waktu gempa di Mentawai  kebetulan ada purnama, jadi orang setiap lihat purnama takut.

Fenomena lunar perigee pada Sabtu 19 Maret 2011 malam juga sempat membuat resah warga di Pidie, Lhokseumawe, dan Langa di Bireuen, Aceh. Terjadi kepanikan warga saat melihat air laut merendam pemukiman warga yang dekat dengan bibir pantai. Mereka panik, mengira terjadi tsunami.

BACA JUGA:  Misteri Gunung yang Disulap Menjadi Istana

Warga berebut naik ke atas bukit untuk menyelamatkan diri. Dilaporkan, dua warga di Pidie meninggal dunia akibat isu tsunami. Karena serangan jantung dan darah tinggi.

Bencana itu ada siklusnya sendiri, Tak ada pemicu pun dia meletus. Misalnya, ada sumber gempa bumi yang energinya penuh maka terjadi lindu. Gempa bumi dan gunung api punya sistem geologinya sendiri. Dia berdiri sendiri, akan terjadi tanpa gangguan dari luar. Terjadi sendiri.”

Seandainya Bulan punya kemampuan mengundang gempa besar, maka akan memicu jutaan kali lebih banyak lindu kecil yang biasa terjadi tiap hari di Bumi.

Supermoon terjadi saat Bulan sedikit mendekat ke Bumi daripada rata-rata. Efek ini paling terlihat saat terjadi bulan purnama. Bulan akan terlihat lebih besar, meski perbedaan jarak dari Bumi hanya beberapa persen di banding biasanya.

BACA JUGA:  Teka - Teki Lorong Bawah Tanah Lawang sewu

Efek bulan terhadap bumi telah lama menjadi subyek studi. Hasilnya, Efek supermoon terhadap Bumi kecil. Dan menurut studi detil para seismolog dan vulkanolog, kombinasi antara supermoon dan bulan purnama tidak mempengaruhi energi internal keseimbangan di Bumi. Meski bulan berkaitan dengan kondisi pasang surut Bumi, itu tidak mampu memicu gempa besar yang mematikan.

Kekuatan sejatinya justru berada di planet manusia itu sendiri. Bumi menyimpan energi di balik lapisan luar atau keraknya. Perbedaan daya pasang surut yang diakibatkan Bulan (juga Matahari) tidak cukup mendasari munculnya kekuatan besar dari dalam Bumi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *