Karir Kemiliteran Pak Harto

1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

BILIKMISTERI.WEB.ID – Suharto amat berminat dalam latihan-latihan kemiliteran. Ia juga terpengaruh oleh ide-ide nasionalisme yang amat bergema pada masa latihan kemiliteran di PETA. Saat itu ide paling besar dari perwira PETA adalah: Nasionalisme Ekstrim, anti Belanda dan Anti Jepang.

karir-kemiliteran-pak-hartoAda yang perlu dicatat PETA berbeda dengan KNIL. Dalam PETA tidak adhal lain anya pengaruh sipil yang mengendalikan ia seakan-akan bergerak sendiri. Sementara KNIL amat dipengaruhi keputusan sipil.

Watak dasar entitas inilah yang kemudian menjelaskan bagaimana kemudian Jenderal-Jenderal Orde Baru lulusan PETA yang kemudian mengambil alih kendali sejarah, memutuskan hubungan dengan sipil dan berani menghajar Sukarno, berbeda dengan jenderal lulusan KNIL yang cenderung taat pada otoritas sipil.

Karir Suharto melejit setelah ia mendengarkan pengumuman bahwa Sukarno telah memerdekakan Indonesia. Ia sendiri mengakui bersorak gembira ia larut dalam eforia kemerdekaan Republik Indonesia. Tapi ia langsung bertindak di Yogyakarta dan karena masa lalunya yang baik dalam latihan kemiliteran ia langsung diangkat menjadi Mayor Republik.

Ini adalah keputusan menarik bagi seorang Suharto, karena bagaimanapun sebagai eks KNIL dan memiliki karir bagus di PETA, dan ia bisa saja menunggu Belanda dan melamar menjadi Perwira KNIL untuk perang dengan Republik.


Tapi, Suharto lebih memilih menjadi pejuang di garis kemerdekaan Republik Indonesia. Pilihan ini tidak bisa dianggap remeh karena ini bisa menjelaskan watak nasionalisme Suharto yang puritan, ekstrim dan tidak aneh-aneh, setia pada merah putih walaupun kemudian ia gagal paham soal pandangan yang lebih menjlimet lagi ‘soal kedaulatan total’ ide yang dikeluarkan oleh Tan Malaka dan Bung Karno.

Bagi Suharto nasionalisme adalah soal kesejahteraan, cinta tanah air dan rakyat tidak kelaparan. Nasionalisme logistik inilah yang kemudian mewarnai Indonesia selama lebih dari 32 tahun.

Suharto adalah orang yang beruntung, ia tanpa sengaja masuk ke dalam pusaran sejarah dan kenal dengan orang-orang nomor satu di negeri ini. Ia bisa kenal dengan Bung Karno lewat kejadian paling bersejarah, yakni penangkapan Djenderal Mayoor Sudarsono.

Saat itu Sudarsono adalah orang yang paling berjasa terhadap pembentukan pasukan di Yogyakarta. Ia yang menyerang seluruh markas Jepang dan merebut persenjataan sehingga pasukan di Yogyakarta menjadi pasukan terkuat se Indonesia.

Kekuatan pasukan inilah yang kemudian menjadikan posisi Sri Sultan Hamengkubuwono IX amat penting serta membuat seluruh kabinet Republik Indonesia mengungsi ke Yogyakarta dan meminta perlindungan pada Sri Sultan Hamengkubuwono IX.

Sekaligus menyusun strategi militer yang lebih komprehensif untuk menghadapi kekuatan Belanda yang menurut data intelijen Inggris dan sudah diterima Sjahrir akan masuk lewat struktur entitas militer bernama NICA.

Di awal tahun 1946 berkembang perdebatan sengit di dua kelompok: Kelompok Sjahrir dan Amir Sjarifuddin. Saat itu mereka bersatu dalam Partai Sosialis (PS) serta menjadi dominan dalam Kabinet menghendaki perundingan kepada Belanda.

Sementara di pihak lain kelompok oposisi yang dipimpin Tan Malaka menghendaki perang total, perang tanpa kompromi dengan Belanda.

“Tak Perundingan, Tak ada diplomasi, Merdeka-lah kita 100%”. Dan Kelompok Tan Malaka mendapatkan simpati hampir semua perwira militer terutama yang berasal dari PETA. Jenderal Sudirman adalah pengagum Tan Malaka.

Ia selalu berdiri dan bertepuk tangan ketika Tan Malaka pidato. Anak buah Sudirman, Jenderal Mayoor Sudarsono dan anak buahnya Mayor AK Yusuf juga amat berdiri di garis Tan Malaka. Namun ada situasi over acting muncul dari tindakan Sudarsono yang menangkap Perdana Menteri Sjahrir dan pengikutnya.

Tindakan Sudarsono ini jelas dikecam Sukarno. Seorang pemimpin pemuda bernama Sudjojo memerintahkan Suharto–yang saat itu sudah menjadi Letkol karena keberaniannya dalam perang Ambarawa dan menjadi anak buah kesayangan Jenderal Sudirman–untuk menangkap Sudarsono.

Tak lama kemudian keluar surat perintah dari Sukarno untuk menangkap Sudarsono. Saat itu Suharto berpikir, “Bagaimana bisa ia menangkap atasannya, orang yang paling berjasa atas lengkapnya persenjataan pasukan di Yogyakarta dan dikagumi banyak serdadu Yogya, sementara saya sendiri adalah pengikut Sudarsono,” pikir Suharto.

Tapi Suharto amat hati-hati membalas surat Sukarno. Katanya, ia (Suharto) akan menangkap Sudarsono bila ada perintah dari Jenderal Sudirman. Maka, konflik 3 Juli 1946 ini menjadi amat jelas bagi bagaimana menilai kemampuan Suharto dalam manajemen konflik dan mengerti atas situasi.

Dan, ia mendapatkan pelajaran ‘Bahwa kekuasaan bukanlah selalu orang yang berada di atas posisinya, tapi kekuasaan adalah mereka yang secara realitas memegang kekuatan dan kendali atas keadaan’.

Suharto mengerti saat itu bukan Sukarno yang memegang kendali kekuasaan, tapi Sudirman dan Tan Malaka. Soal ini secara jelas diungkapkan banyak sejarawan pada waktu itu tentang pola kekuasaan di Indonesia selama masa revolusi bersenjata 1945-1949.

Suharto tak mau melakukan tindakan sebelum tahu jelas sekali situasi dan tak mau bertindak sebelum mengerti siapa yang memegang kendali keadaan. Inilah yang kemudian menjadikan “Si Lembu Petheng’ selalu memenangkan sejarah.

Dan ucapan paling fenomenalnya adalah, “PKI berada dalam penculikan para Jenderal” di awal Oktober 1965. Ini menunjukkan bahwa memang Suharto memiliki informasi amat lengkap sebelum kejadian dan bukan merupakan spekulasi. Inilah yang membedakan Suharto dengan pelaku sejarah lainnya.

Memang, diakui seluruh bangsa, Sukarno merupakan Bapak Pembebas Rakyat Indonesia, tapi mau tak mau peradaban sekarang ini tetaplah peradaban Suhartorian bahkan di jaman era reformasi sekalipun.

Seluruh pemegang kekuasaan saat ini merupakan anak didik Suharto yang diberi fasilitas pada jaman Suharto, hampir 100 persen pelaku penting politik saat ini bukanlah orang yang melawan Suharto. Inilah yang menjelaskan kenapa Sudjiwo Tedjo mengatakan ‘Siapa Bapak Kandung Suharto?’

 


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *