Mengenal Budaya dan Manusia Cerekang

Mengenal Budaya dan Manusia CerekangCerekang adalah sebuah dusun kecil di kaki Gunung Pensemoni (Punsi Mevuni), tepatnya di wilayah Desa Manurung, Kecamatan Malili, Kabupaten Luwu Timur.

Cerekang sangat dikenal bagi pemerhati budaya Bugis Kuno. Dalam berbagai sumber terutama dalam Kitab I Lagaligo, kampung ini di yakini sebagai tanah pertama yang di sentuh manusia pertama yang di turunkan dari langit (Boting Langi’) yaitu Batara Guru.

Sebagai Putra Mahadewa, Batara Guru mengawali sejarah panjang Manusia Bugis dengan mengelola alam dan mengatur negara pertama.

Cerekang menjadi simbol ke-pertama-an Bugis. Batara Guru menjadi pemimpin yang menjamin keseimbangan duniawi dan pengabdian kepada alam dan Sang Penguasa Alam.

Batara Guru membolehkan bercocok tanam tanpa merusak alam, membolehkan makan daging binatang dan ikan tanpa membuat hewan binasa dan tanpa membuat air sungai keruh. Kedamaian manusia terlindungi dari kekacauan dan saling melecehkan sehingga melahirkan generasi andalan yang bisa menjadi panutan bagi manusia berikutnya.


BACA JUGA:  Misteri Kisah Sanghyang Tunggal

Organisasi masyarakat diatur sedemikian rupa sehingga fungsi fungsi kemanusiaan tertata baik. Semua kelas manusia memiliki pemimpin yang terpercaya. Petani memiliki penghulu pertanian, nelayan memiliki pemimpin dalam usaha perikanan.

Penjaga Moralitas masyarakat di serahkan kepada Pua’. Pua’ ini menjadi sumber informasi dari Penguasa Langit dan satu satunya lembaga yang menghubungkan bumi (dunia tengah) dengan dunia langit. Kepatuhan dan kepatutan manusia terhadap aturan langit sangat di jaga melalui perantara Pua’.

Pua’ menerima kabar dan kehendak Sang Penguasa Kehidupan dan menterjemahkan berupa aturan yang mengikat tentang apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan oleh manusia. Pua’ menjadi gerbang permintaan dan permohonan hamba kepada Tuhannya.

Ratusan bahkan rbuan tahun berlangsung bersama kepatuhan, keteraturan dan kepatutan. Sekian banyak pemimpin lahir dan terinspirasi dari kebesaran nama Tanah Cerekang. Sawerigading dan I La Galigo menjadi tokoh kebanggaan Manusia Bugis yang sudah menyebar di seluruh belahan bumi, menjadi simbol yang kuat.

BACA JUGA:  Matano Penghasil Besi Terbaik Kerajaan Luwu

Bahkan beberapa manusia pintar dan beruntung, yang hidup sangat jauh dari Cerekang, menjadi fenomenal karena tanah ini. Yang jauh dan tidak pernah menginjakkan kaki di Cerekang mengambil tuah dan hikmah. Banyak sarjana besar berjaya hanya karena mereka menulis secuil kisah dari Cerekang.

Apa yang terjadi sekarang di Cerekang? Kebesaran masa lalu hampir terlupakan dan terlecehkan. Pua’ Cerekang dari tokoh agung menjadi sekedar bahan pelajaran kebesaran masa lalu. Tidak jarang manusia sekarang menganggap Pua’ adalah bahan lelucon bahkan bahan cibiran yang sangat tidak terpercaya.

Pua’ Cerekang masih ada, orangnya masih ada sampai sekarang, akan tetapi Beliau berada pada posisi termarginalkan. Dalam banyak kesempatan seminar dan lokakarya Pua’ Cerekang menjadi bahan seminar yang berkilau, semua merasa dekat dengan Cerekang ketika masih berada dalam forum seminar.

BACA JUGA:  Sang Hyang Manikmaya Menjadi Raja

Akan tetapi, setelah forum diskusi selesai, maka selesai pula kebanggaan itu. Keberadaan Pua’ Cerekang sama persis dengan Imam Mesjid yang di butuhkan hanya ketika pada saat lebaran atau ada warga yang meninggal dunia. Atau di butuhkan saat manusia manusia dalam kesusahan, di butuhkan hanya pada saat butuh pertolongan melalui doa.

Walaupun entah karena Pua’, setelah kesusahan berlalu berganti kesenangan, orang yang sebelumnya membantu membangkitkan motivasi spiritual itu di biarkan seakan akan tidak punya arti apa apa. Tragis memang manusia sekarang, karena hidup di belakang akhirnya menjadi terbelakang.

Ada apa dengan budaya dan manusia Cerekang saat ini?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *