Mengenal Bangsa Arab, Bangsa Semit dan Kebudayaan Islam

Mengenal Bangsa Arab, Bangsa Semit dan Kebudayaan Islam

Bangsa Arab adalah salah satu bangsa dari keluarga rumpun ras  Semit. Bahasa dan bangsa Semit adalah istilah/sebutan yang diberikan para sejarawan atas bangsa-bangsa yang berbahasa Arab, Ibrani, Suryani (Suriah Lama), Ethiopia, Phoenisia, Assyria, dan Aramea. Isitilah Semit sendiri dinisbahkan kepada Sam, putera Nabi Nuh a.s. sebagaimana diisyaratkan di dalam Perjanjian Lama (Kitab Kejadian 10:1).

Boleh jadi sebutan itu terutama disandang bangsa Arab, di samping bangsa Yahudi, karena  bangsa Arab merupakan bangsa yang paling gigih memelihara kepribadian dan ciri ras Semit sejak dulu hingga sekarang. Bahasa Arab pun demikian. Ia termasuk ke dalam bahasa rumpun Semit yang paling terpelihara ciri dan karakternya.

Semua ini ada hubungan dengan kondisi kehidupan di Semenanjung Arab dengan keadaan alamnya yang tidak begitu ramah, yang membuat ras dan bahasa Arab mampu bertahan dari berbagai serbuan sebagaimana menimpa bangsa dan rumpun bahasa Semit lain yang bukan Arab. Peran kemunculan agama Islam juga sangat besar dalam mengukuhkan kemantapan perkembangan bahasa Arab dan kebudayaan bangsa Arab.

Kita tahu al-Qur’an diturunkan dalam bahasa Arab Hejaz, tempat Nabi Muhammad dilahirkan, dan disebabkan pesatnya studi al-Qur’an itulah bahasa dan kesusastraan Arab berkembang pesat pada masa awal penyebaran Islam. Sebagian peneliti berpendapat bahwa penafsiran tradisional yang menyatakan bahwa bangsa-bangsa Semit adalah keturunan Sam bin Nuh tidak diperkuat oleh penelitian ilmiah.


Sebab cikal-bakal bangsa-bangsa yang tinggal di wilayah ini, seperti bangsa Babylonia, Assyria, Khaldea, Aramea, Phoenisia, Ibrani, Arab dan Ethiopia, pada zaman dahulu sebelum mereka berpencar adalah satu bangsa yang tinggal di tempat yang sama. Kenyataan ini dikukuhkan oleh adanya berbagai aspek kemiripan di antara bahasa-bahasa mereka.

Menurut para ahli bahasa, akar kata kerja dalam semua bahasa mereka, yaitu bahasa-bahasa Semit, terdiri dari tiga huruf dan keterangan waktunya mempunyai dua bentuk, yaitu bentuk masa lalu dan bentuk masa kini. Perobahan kata kerjanya pun serupa, demikian pula pokok kata-kata, di antaranya kata ganti dan kata benda yang menunjuk pada hubungan darah dan bilangan, dan sebagian kata benda dari organ tubuh hampir sepenuhnya sama.

”Apabila kita melihat sistem sosial dan keagamaan bangsa-bangsa yang berbicara dalam bahasa-bahasa Semit ini dan kita bandingkan ciri jasmani mereka, akan tampak keserupaan di antara mereka begitu nyata. Kekerabatan bahasa memang merupakan  salah satu manifestasi kesatuan ras, sebagaimana jika kita bandingkan dengan kekerabatan bahasa-bahasa pribumi Nusantara dan keserupaan ciri fisiknya.  Keserupaan juga tampak gamblang dalam hal seperti naluri keagamaan, tajamnya imajinasi, dan kuatnya perasaan individualistik dari bangsa-bangsa dari rumpun ras Semit ini.

TEMPAT TINGGAL

Mengenai tempat tinggal bangsa-bangsa Semit yang awal para ilmuwan berbeda pendapat. Mereka yang merujuk kepada kitab Taurat/Perjanjian Lama berpendapat bahwa tempat asal manusia adalah Mesopotamia, yang kemudian berpencar ke seluruh penjuru bumi. Dari bangsa Semit lahirlah bangsa Assyria dan Babylonia di Iraq, bangsa Aramea di Syam,  bangsa Phoenisia di pantai Suriah, bangsa Arab di Semenjanjung Arab, dan bangsa Ethiopia di Afrika.

Sedangkan sebagian Orientalis, yang mendasarkan pendapat mereka pada asal-usul bahasa dan kata jadiannya, serta adanya keserupaan antara bahasa Semit dan bahasa Hamedh (yaitu bahasa Afrika), berpendapat bahwa tempat asal bangsa Semit adalah Afrika, tepatnya Ethiopia, mengingat banyaknya persamaan antara Ethiopia dan negeri Arab, baik iklim maupun bahasanya.

Tetapi beberapa Orientalis lain berpendapat bahwa daerah asal bangsa Arab adalah Semenanjung Arab. Dari Semenanjung inilah kemudian mereka berpencar ke berbagai penjuru dunia dalam berbagai gelombang migrasi seperti halnya yang terjadi pada permulaan Islam. Sedang orientalis lain lagi mengatakan bahwa tempat asal bangsa –bangsa Semit adalah Lembah Syam sampai ke Nejd.

Tetapi tujuan pembicaraan kita bukan memastikan tempat asal bangsa-bangsa Semit. Melainkan bagaimana kebudayaan-kebudayaan yang telah ada sebelum datangnya Islam, mempunyai dampak tidak langsung khususnya bagi  bangsa Arab setelah datangnya agama Islam. Ketika agama Islam lahir di tanah Arab, bangsa Arab dibagi ke dalam dua kelompok:

BACA JUGA:  Misteri Cincin Batu Nabi Sulaiman

Pertama, kaum Baduwi atau nomaden yang tinggal di padang pasir dan kerap berpindah-pindah, dan kedua, penduduk perkotaan yang hidup di daerah-daerah yang subur. Sebagaimana kita ketahui jantung Semenanjung Arab adalah padang pasir tanpa air dan tumbuh-tumbuhan, tetapi di pinggir-pinggirnya terdapat wadi-wadi subur yang mendapat curah hujan tinggi sehingga tanamannya dapat tumbuh dengan baik,  Di daerah pinggir ini juga terdapat daerah perdagangan yang diikuti dengan tumbuhnya kebudayaan.

Adanya dua macam keadaan berbeda secara geografis ini telah mengakibatkan terjadinya dualisme dalam karakter penduduk Semenanjung Arab sejak dulu, yaitu antara kaum Baduwi dan penduduk kota. Kata-kata Baduwi yang semula dinisbatkan bagi suku-suku yang hidup nomaden di padang pasir, kemudian diperluas hingga meliputi mereka yang yang menghuni daerah-daerah pertanian.

Ini terutama karena mayoritas orang Baduwi, sesuai karakter peradaban di negeri-negeri Arab, mampu menjadikan hubungan-hubungan antara kenomadenan dan kekotaan begitu erat. Ini tampa manifestasinya dalam perpaduan keduanya sampai ke batas tertentu.  Walaupun distribusi geografis antara padang pasir dan wilayah subur berpengaruh, namun keterjalinan dan keterikatan yang ditimbulkan oleh perdagangan dan budaya mampu membuat kedua kelompok sosial ini tidak jauh berbeda.

Sepanjang sejarah mereka, sejak lama sebelum Islam lahir, kehidupan perkotaan telah merefleksikan berbagai keadaan yang menunjukkan berbagai temperamen yang sama seperti dimiliki kaum Baduwi. Penduduk kota misalnya cukup banyak yang memiliki kebiasaan merantau dan berpindah tempat, sesuai dengan pergantian musim, atau ketika negeri mereka tertimpa paceklik serta mengalami pergolakan seperti peperangan antar kaiblah.

Keserupaan antara kehidupan suku Baduwi di Semenjanung Arab dengan penduduk perkotaan, ditopang oleh kebiasaan suku Baduwi yang suka menetap di tempat yang terdapat air dan padang penggembalaan, walaupun tidak jarang mereka sengaja mendatangi atau pindah ke daerah-daerah perkotaan, terlepas dari masalah ternak gembalaan mereka. Karena itu terjadilah interaksi dan kontak, kemudian system kesukuan pun menjadi sistem yang berkembang di seluruh Semenanjung Arab.

Walau demikian, di berbagai kawasan perkotaan, pinggir-pinggir pantai, telah muncul pusat-pusat kebudayaan Arab kuna. Ini terlihat dari berbagai relief yang ada di sana, suatu pertanda telah tegaknya beberapa kebudayaan.  Di Semenjanjung Arab sebelah Timur misalnya, terdapat kebudayaan Khaldea dan Assyria. Di sebelah Utara kebudayaan Aramea, Kanaan, dan Anbath. Di sebelah Selatan kebudayaan Saba’ dan Humair. Sedangkan di sebelah Barat, di sepanjang pantai Laut Merah berdiri beberapa kota yang penduduknya adalah kaum Lahyan dan Tsamud.  Secara tidak langsung kebudayaan-kebudayaan Semit kuna tersebut memberikan andil bagi berkembangnya kebudayan Islam.

ARAB DAN KEBUDAYAAN ISLAM

Dalam membentuk kebudayaan Islam sejumlah besar bangsa yang memeluk Islam telah ikut berperan besar. Khususnya bangsa-bangsa Persia, India, Turk, Yunani, dan lain sebagainya. Bangsa-bangsa ini pula, ketika Islam datang sedang terburuk dan masih dalam keadaan belum subur kebudayaannya, menjadi bangsa yang berm,artabat dan memainkan peranan penting dalam pentas sejarah dunia berkat datangnya Islam.

Sebut saja bangsa Persia dan Turk. Ketika Islam datang kekaisaran Persia sednag ambruk dan bangsa Persia sedang terpuruk. Pun ketika Islam datang bangsa Turk di Asia Tengah masih merupakan bangsa nomaden yang hidup tanpa kesatuan politik, tetapi begitu mereka bergabung dengan Islam maka sejarah mereka ke puncak-puncak kejayaannya.

Kebudayaan Islam, seperti halnya kebudayaan-kebudayaan lainnya, tidaklah muncul dari kekosongan. Melainkan berawal dari munculnya berbagai kebudayaan di kawasan dunia lain seperti Mesir, Persia, Yunani, Babylonia, Tiongkok, Romawi dan lain-lain.  Unsur-unsur dari kebudayaan-kebudayaan ini kemudian tersaring menjadi bahan pembentuk kebudayaan Islam, setelah lebih dahulu dilebur dalam satu wadah oleh Islam, dan diwarnai dengan corak Islam dalam kedudukannya sebagai dasar aqidah dan metode kehidupan.

BACA JUGA:  Misteri Keberadaan Sosok Patih Gajah Mada

Namun ini tidak berarti bahwa kita harus menutup mata terhadap keanekaragaman sifat-sifat khusus kebudayaan-kebudayaan itu dan perbedaan dalam cita rasa , kecenderungan politik, agama, khazanah sastra, lingkungan geografis, dan bahasa yang berkembang di dalamnya, karena jelas itu ada. Misalnya jika kberbicara tentang kebudayaan Islam Arab, Persia, Turki, Afrika, Indo-Pakistan dan Melayu-Indonesia/Nusantara.

Akan tetapi untuk kepentingan pembicaraan kita sekarang, yang penting dicatat ialah upaya penyatuan yang telah dilakukan Islam itu secara intuitif, mencakup  konsepsi Islam  tentang wujud dan wawasan sejarah yang membuat bangsa yang budayanya anekaragam itu bisa saling berkerabat dan berdekatan. Dilihat dari sudut pandang lain, peran serta bangsa-bangsa bukan Arab dalam benetuk kebudayaan Islam tidaklah mengurangi orisinalitas kebudayan Islam.

Sebab apa pun yang disebut dngan kebudayaan itu tidak lain daripada tindakan memberi dan menerima serta hasil bersama pengalaman manusia sepanjang sejarah. Kebudayaan Islam baru yang unggul ini berhasil membuat pudar berbagai kebudayaan kuna, serta  memanfaatkan khazanah dan unsur kebudayaan yang ada dengan merombaknya, menukilnya, atau menidadakannya, sehingga dalam kawasan-kawasan  kaum Muslimin timbul pula sifat-sifat baru yang dodominasi semangat yang sama, yaitu semangat Timur khusus yang menyatukan anggota-anggota imperium Islam, sekalipun asal dan ras mereka aneka ragam.

Semangat seperti itulah yang mampu menaklukkan filsafat Yunani ketika filsafat ini masuk ke dalam lingkungan kebudayaan Timur, dan mewarnai filsafat ini dengan corak rohani dan ilham yang berbeda dari asalnya serta unik. Ia adalah semangat yang oleh pera penelit dipahami sebagai sebagai karakteristik bersama dari kaum Muslim yang kebangsaannya berbeda-beda.

Pada waktu Islam muncul dan tersebar luas di berbagai negeri Timur, semangat ini menjadi berkembang dan kukuh, sampai kemudian semangat ini disatukan oleh Islam, sehingga bangsa-bangsa tersebut bernaung di bawah satu hukum, atau sistem pemerintahan, berbicara dengan satu bahasa dan mayoritas mereka memeluk agama yang sama. Walaupun transportasi ketika itu sukar, namun para ilmuwan Muslim sangat sering mengadakan perlawatan untuk bertukar pikiran dan menyebarluaskan seruan-seruan agama dan politik.

Sementara para penguasa dan khilafah pun mengirim para utusan yang dibekali dengan ajaran-ajaran yang satu dalam substansinya. Semuanya ini membuat bersatunya bangsa-bangsa tersebut dan membentuk apa yang disebut sebagai Ummat yang satu, yang memiliki tradisi sastra yang satu, kebudayaan yang satu, dan ilmu yang dibagi bersama baik khazanah maupun ciri-ciri metodologinya.

Jelaslah di sini bahwa kebudayaan Islam bukan kebudayaan Arab, akan tetapi dalam pembentukan kebudayaan Islam, unsur Arab memainkan peranan penting. Ini karena bangsa Arab adalah bangsa pertama yang menerima Islam dan menegakkan panji-panjinya serta menyerukan panggilannya. Mereka adalah bangsa yang dalam puncak kejayaannya memancarkan hal-hal cemerlang yang selalu menyertai nama-nama para penakluk dunia.

Dalam masa seabad saja bangsa ini telah mampu mendirikan sebuah kekhalifatan/imperium besar yang kekuasaannya terentang dari pantai Lautan Atlantik hingga perbatasan Tiongkok, dan mengungguli kekaisaran Romawi dalam puncak kejayaannya. Selama periode perluasan ini, yang belum pernah terjadi sebelumnya, lewat kontak dengan bangsa-bangsa yang ditaklukkan bangsa Arab mampu membuat putra-putera bangsa tersebut menerima agama, bahasa, dan adab mereka, suatu hal yang tidak pernah mampu dibuat oleh bangsa lain sebelumnya, juga sesudahnya, dan dalam hal ini tiada perkecualian bagi bangsa Yunani, Romawi, Anglo Saxon dan Rusia.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *