Trisula Wedha Sebagai Pedoman Hidup

 

Artikel ini adalah lanjutan dari  Pangeran Perang

Trisula Wedha Sebagai Pedoman HidupSatrio Piningit

Pada bait 168 baris ke 4 – 8 sebagai berikut:

mung angan delake trisula
landheping trisula pucuk
gegawe pati utawa utang nyawa
sing tengah sirik gawe kapitunaning liyan
sing pinggir-pinggir tolak colong njupuk winanda

 

hanya berpedoman trisula
ujung trisulanya sangat tajam
membawa maut atau utang nyawa
yang tengah pantang berbuat merugikan orang lain
yang dikiri kanan menolak pencurian dan kejahatan

Penjelasannya: Dalam wujudnya sebagai manusia nyata Satrio Piningit menjadikan trisula wedha sebagai pedoman dalam menjalani hidup dan kehidupannya sehari-hari. Pedoman hidup trisula wedha terpatri dalam sanubarinya, berurat berakar di jiwanya dan tumbuh subur di dalam darahnya sehingga membentuk karakter utama Satrio Piningit yaitu:

  • Tidak akan merugikan orang lain
  • Tidak akan mencuri
  • Tidak akan berbuat kejahatan

Ketiga karakter utama Satrio Piningit tersebut adalah aturan moral yang dia terapkan sendiri dalam dirinya. Aturan moral yang didasari oleh trisula wedha. Tiga karakter utama itu adalah inti Kitab Taurat yang diturunkan Allah kepada nabi Musa as. untuk bani Israil akan tetapi bani Israil tidak mematuhinya.

Ketiga aturan moral di atas sesuai dengan batasan hukum positif yang berlaku di negara Republik Indonesia. Karena itu, bisa juga dikatakan Satrio Piningit mewakili bani Israil dalam mengimani Taurat (Torah).

Andaikan orang Israil menjalankan hukum taurat sebagaimana yang dikehendaki Allah, mungkin saja mereka tidak memperlakukan orang-orang Palestina di luar batas-batas kemanusian.

Ramalan bait 159 baris terakhir sbb:

Utang wirang nyawer wirang
Hutang malu dibayar malu.

Mungkin dapat dimaknai bahwa perlakuan orang-orang Israil, keturunan bani Israil, keturunan Yakub bin Ishak bin Abraham (Ibrahim) membuat malu karena tidak menjalankan kitab taurat yang pernah diberikan kepadanya. Siapakah yang merasa dipermalukan dengan ulah bani Israil yang tidak mau menjalankan hukum-hukum Allah sebagaimana yang terdapat di kitab taurat?.

Ramalan bait 173 baris ke 8-9.

hi ya iku momongane kaki Sabdopalon
sing wis adu wirang nanging kondhang
itulah asuhannya Sabdopalon
yang sudah menanggung malu tetapi termasyhur.

“itulah asuhannya Sabdopalon” maksudnya Satrio Piningit diasuh (anak asuh) Sabdopalon. “yang sudah menanggung malu” maksudnya Sabdopalon merasa malu dengan ulah bani Israil yang tidak mau mematuhi kitab suci Taurat. “tetapi termahsyur” maksudnya: “Sabdo Palon adalah nama lain dari nabi Hidir alaihissalam. Nabi Hidir as sebagaimana kita ketahui sudah termahsyur namanya. Nabi Hidir as adalah guru nabi Musa as.

Dia yang mengasuh (membimbing) nabi Musa as. Bani Israil adalah ummat Musa as. Oleh karena bani Israil tidak mematuhi nabi Musa as dengan menjalankan hukum-hukum Taurat maka sebagai guru tentu saja nabi Hidir merasa malu kepada Tuhannya. Nabi Hidir (Sabdopalon) merasa malu dianggap tidak berhasil membimbing nabi Musa as.

Untuk membayar rasa malunya maka Sabdopalon (nabi Hidir as) mengasuh (membimbing) Satrio Piningit agar menaati pedoman “Trisula wedha” yang merupakan inti ajaran Taurat (hukum-hukum Tuhan). Dengan demikian maka Satrio Piningit dapat juga dikatakan telah menggenapkan bani Israil. Yang mendiami negara Israil sekarang ini bukan bani Israil yang dimaksudkan dalam ayat suci Alqur’an.

Individu-Individu atau Orang per Orang atau Rakyat

Pada bait 164 baris ke 7 – 9 sebagai berikut:

kinen ambantu manungso jawa padha asesanti trisula wedha
landhepe triniji suci
bener, jejeg, jujur

membantu manusia jawa berpedoman pada trisula wedha
tajamnya tritunggal nan suci
benar, lurus, jujur

Satrio Piningit harus membantu masyarakat jawa (Indonesia) menjadikan trisula wedha sebagai pedoman hidup dalam menjalani hidup dan kehidupannya sehari-hari. Masyarakat Jawa (Indonesia) melakukan tindakan yang salah, perbuatan yang menyimpang dan banyak berdusta. Semua itu disebabkan karena pengaruh Iblis.

Kuatnya pengaruh iblis terhadap manusia Jawa (Indonesia) sudah diramalkan oleh Jayabaya sebagaimana bait 118 (bahasa Jawa dan artinya) sbb:

rawa dadi bera=rawa menjadi rata
iblis anjalma manungsa=iblis menyerupai manusia
iblis mendhilis=iblis merajalela
manungsa sara=manusia sengsara
jaran doyan sambel=kuda suka makan sambel
kreta arodha papat setugel=kereta roda empat menjadi separuh (setengah)
wong bener thenger-thenger=orang benar tidak bisa berbuat apa-apa
bejane sing lali=untungnya yang lupa
bejane sing eling=untungnya yang ingat
nanging isih beja sing waspadha=tetapi masih beruntung yang waspada

Bersambung…

 
 

TOPIK LAINNYA

ciri ciri keturunan ki ageng selo, kesaktian parikesit, juru kunci gunung sangga buana, kuncen gunung sanggabuana, ciri khusus keturunan mataram, sejarah panglima kumbang, nu vot, ciri khas keturunan sunan kalijaga, ciri ciri titisan sunan kalijaga, jaka tingkir vs prabu siliwangi

JANGAN LEWATKAN