Sejarah Perang 6 Hari Arab-Israel 1967


Sejarah Perang 6 Hari
Sejarah Perang 6 Hari Antara Arab – Israel 1967

BILIKMISTERI.WEB.ID ~ Timur Tengah adalah sebutan untuk wilayah yang mencakup Afrika Utara & Asia Barat. Sebagai akibat dari posisinya yang strategis & kandungan minyaknya yang tinggi, Timur Tengah dalam sejarahnya kerap dilanda aneka konflik bersenjata.

Dari sekian banyak konflik yang pernah melanda kawasan Timur Tengah, salah satu konflik yang hanya berlangsung singkat namun sangat terkenal adalah Perang 6 Hari.

Perang 6 Hari (The Six Day War) atau Perang Arab-Israel 1967 adalah perang yang berlangsung selama 6 hari, tepatnya antara tanggal 5 – 10 Juni 1967. Konflik tersebut merupakan bagian dari rangkaian konflik bersenjata antara Israel melawan negara-negara Arab yang diwakili oleh Mesir, Suriah, & Yordania.

Pasca perang yang dimenangkan oleh Israel tersebut, wilayah Israel bertambah luas, sementara wilayah negara-negara Arab tetangganya menyusut.

LATAR BELAKANG

Akar dari Perang 6 Hari bisa ditelusuri sejak tahun 1948 di mana pada tahun tersebut, komunitas pemukim Yahudi di Palestina memproklamasikan berdirinya negara Israel. Negara-negara besar seperti AS & Uni Soviet menyatakan pengakuannya atas proklamasi tersebut.

Namun tidak dengan negara-negara Arab yang menganggap pembentukan Israel sebagai ilegal karena didirikan sebelum masalah sengketa wilayah antara orang-orang Yahudi & Arab Palestina yang sudah berlangsung sejak permulaan abad ke-20 benar-benar terselesaikan.

Penolakan pendirian Israel ditunjukkan dengan invasi negara-negara Arab ke wilayah Israel pada tahun yang sama. Setahun kemudian alias pada tahun 1949, perang akhirnya berhenti, namun masalah sengketa antara Israel dengan komunitas Arab tetap belum terselesaikan.

Selama periode pasca perang tersebut, para pengungsi Arab Palestina juga mulai melakukan serangan sembunyi-sembunyi ke wilayah Israel dengan memakai wilayah negara-negara Arab di sekitar Israel sebagai markasnya, salah satunya dari wilayah Yordania.

Serangan demi serangan yang dilakukan oleh para gerilyawan Palestina lantas memancing Israel untuk melakukan serangan balasan ke desa As-Samu, Yordania, pada tahun 1966. Serangan Israel ke wilayah Yordania tersebut tak pelak memancing kemarahan pemerintah Yordania, terlebih karena ada tentara Yordania yang dilaporkan tewas akibat serangan tersebut.

Perang 6 Hari Arab-Israel 1967
Perang 6 Hari Arab-Israel 1967

Maka, tak lama sesudah peristiwa serangan di As-Samu, Yordania mulai memobilisasi pasukannya di sepanjang perbatasan Yordania-Israel & mulai meningkatkan kontak dengan negara-negara Arab lainnya kalau-kalau perang melawan Israel meletus kembali.

Selain dari Yordania, Israel juga mendapatkan serangan-serangan sporadis dari para gerilyawan Palestina yang bermukim di Suriah. Merasa kesal dengan Suriah yang dianggap sengaja menyokong para gerilyawan tersebut.

Pada tahun 1967 Israel mengancam akan mengambil tindakan militer bila tidak ada respon lebih lanjut dari pemerintah Suriah untuk membatasi aktivitas gerilyawan-gerilyawan Palestina di wilayahnya. Tak lama sesudah keluarnya ancaman tersebut, Suriah & sekutunya Uni Soviet memperingatkan Mesir kalau Israel berencana melakukan serangan besar-besaran ke Suriah.

Karena Mesir & Suriah memiliki perjanjian militer akan saling membantu bila salah satu dari keduanya diserang, maka kabar tersebut langsung direspon Mesir dengan mulai memobilisasi pasukannya di Semenanjung Sinai, wilayah timur Mesir yang berbatasan langsung dengan Israel.

Selain karena masalah solidaritas dengan Palestina & Suriah, Mesir juga memiliki dendam pribadi dengan Israel karena Israel dulu pernah menyerang wilayah Mesir bersama-sama dengan Inggris & Prancis pada tahun 1956 ketika terjadi krisis status kepemilikan Terusan Suez.

Bulan Mei 1967, Mesir meminta pasukan perdamaian PBB yang beroperasi di Sinai, Mesir timur, untuk segera meninggalkan lokasi tersebut. Masih di bulan yang sama, Mesir juga melarang kapal-kapal berbendera Israel untuk beroperasi di Selat Tiran yang terletak di antara Sinai (Mesir) & Arab Saudi.

Merasa khawatir dengan perkembangan tersebut, pada bulan Juni 1967 parlemen Israel setuju untuk memulai serangan lebih dulu dengan harapan bisa melumpuhkan pasukan negara-negara Arab sebelum mereka menyerang Israel lebih dulu. Dengan keluarnya keputusan tersebut, pecahnya Perang Arab-Israel episode baru pun tak terelakkan lagi.

 
 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *