Misteri Kisah Sanghyang Nurrasa

BILIKMISTERI.WEB.ID ~ Kisah Wayang. Apa yang dituliskan adalah apa yang pernah dibaca dan dipelajari dari beberapa referensi cerita wayang yang dikutip dari sumber karya sastra para pujangga, khususnya pujangga Jawa.

Mohon jangan disalah artikan secara negatif. Sedikitpun tidak ada maksud untuk menyinggung atau melecehkan kepercayaan, keyakinan dan agama manapun. Mohon dipahami dengan fikiran terbuka agar kita mendapat poin-poin positif dari pen-ceritaan kisah ini.

Sanghyang Nurrasa
Sanghyang Nurrasa dalam pewayangan Jawa

Setelah lama berkuasa di Kahyangan Malwadewa, Sanghyang Nurcahya yang telah dikarunia seorang putra dengan Dewi Nurrini (Dewi Mahamuni), selanjutnya menyerahkan tahta Malwadewa kepada putranya yang telah beranjak dewasa, Sanghyang Nurrasa.

Selain menyerahkan kahyangan Malwadewa, Sanghyang Nurcahya juga menyerahkan seluruh kesaktian pusakanya, antara lain Cupu Manik Astagina, Lata Maosadi (Pohon Rewan atau Pohon Kehidupan, Oyod Mimang, Kalpataru), dan Sesotya Retna Dumillah.

Selanjutnya Sanghyang Nurcahya menciptakan Pustaka Darya, yang adalah serat (kitab) yang menyatu dalam budi. Serat (kitab) tersebut berwujud suara tanpa sastra (tanpa tulis).


Membacanya dengan “cipta sasmita” (kemampuan batin). Berisi kisah perjalanan Sang Hyang Nurcahya sendiri. Setelah menyerahkan semuanya kepada Sanghyang Nurrasa, Sanghyang Nurcahya meraga menjadi satu dengan Sanghyang Nurrasa.

Dalam kisahnya Sanghyang Nurrasa menikah dengan Dewi Sarwati putri Prabu Rawangin raja jin Pulau Darma yang tidak lain adalah kakeknya. Dari perkawinannya itu, mereka dikarunia beberapa anak yang terlahir Sotan” (suara yang samar-samar tanpa wujud).

Masing-masing hanya terdengar suaranya saja. Suara-suara itu bersahut-sahutan seperti berebut siapa yang lebih tua.

Sanghyang Nurrasa kemudian mengheningkan cipta, masuk ke alam gaib. Dengan kesaktiannya, ia bisa melihat wujud putra-putranya itu. Dua suara yang lebih besar berada di depan, dan yang satu bersuara kecil berada di belakang.

Keduanya bisa terlihat setelah disiram dengan Tirtamarta Kamandalu. Sanghyang Nurrasa akhirnya menetapkan, bahwa yang di belakang lebih tua daripada yang di depan.

Putra bersuara kecil yang ada di belakang itu diberi nama Sanghyang Darmajaka, sementara dua putra yang bersuara besar yang ada di depan, kembar diberi nama Sanghyang Wenang dan Sanghyang Wening. Peristiwa tersebut diceritakan terjadi pada tahun 2900 Matahari, atau tahun 2989 Bulan.

Beberapa tahun kemudian, Dewi Sarwati melahirkan seorang putra lagi, kali ini berwujud ‘akyan’ (jasad halus). Putra ketiga tersebut diberi nama Sanghyang Taya.

Setelah putra-putranya dewasa, Sanghyang Nurrasa mewariskan semua ilmu kesaktiannya kepada mereka. Namun diantara mereka hanya Sanghyang Wenang yang paling berbakat sehingga terpilih sebagai ahli waris Kahyangan Malwadewa. Sanghyang Nurrasa kemudian turun takhta dan menyatu ke dalam diri Sanghyang Wenang.

BACA JUGA:  Misteri Sosok Semar di Balik Terjajahnya Nusantara


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *