Sang Hyang Manikmaya Menjadi Raja

BILIKMISTERI.WEB.ID ~ Kisah Wayang. Apa yang dituliskan adalah apa yang pernah dibaca dan dipelajari dari beberapa referensi cerita wayang yang dikutip dari sumber karya sastra para pujangga, khususnya pujangga Jawa.

Mohon jangan disalah artikan secara negatif. Sedikitpun tidak ada maksud untuk menyinggung atau melecehkan kepercayaan, keyakinan dan agama manapun. Mohon dipahami dengan fikiran terbuka agar kita mendapat poin-poin positif dari pen-ceritaan kisah ini.

Sang Hyang Manikmaya
Sang Hyang Manikmaya Menjadi Raja dalam pewayangan Jawa

Sang Hyang Antaga dan Sang Hyang Ismaya menyanggupi sayembara tersebut. Bahwa Barang siapa yang mampu menelan gunung Jamurdipa dan lalu memuntahkannya kembali, maka dialah yang akan diakui sebagai yang tertua dan dinobatkan sebagai Raja Tribuana, mewarisi seluruh Kahyangan Suralaya.

Keduanya lalu mempersiapkan diri. Didahului oleh Sang Hyang Antaga, ia bertiwikrama menjadi berhala sewu yang besarnya melebihi gunung. Dan lalu gunung Jamurdipa dicabut dan dimasukan ke dalam mulutnya.

Ia memaksa untuk menelan, namun ia merasa sangat kesusahan untuk menelannya, Gunung Jamurdipa itu masih berukuran lebih besar dari mulutnya, tapi karena nafsunya yang besar, maka ia terus mencoba memasukan gunung itu ke dalam mulutnya hingga mulutnya robek besar. ‘Kegedhen empyak kurang cagak’, besar keinginannya namun kurang mempunyai perhitungan.


Melihat Sang Hayang Antaga yang sedang bersusah payah ingin menelan gunung, Sang Hyang Ismaya segera melakukan tiwikrama. Tubuhnya seketika meninggi dan membesar, wujudnya seketika itu juga berubah menjadi berhala sewu.

Akan tetapi wujud reksa denawa Sang Hyang Ismaya lebih tinggi besar dibandingkan dengan wujud raksasa jelmaan Sang Hyang Antaga. Tingginya melebihi tujuh kali puncak Himalaya. Kemudian Berhala Sewu perwujudan dari Sang Hyang Ismaya dengan cepat merebut gunung yang hendak ditelan oleh Sang Hyang Antaga.

Dalam keadaan seperti itu Sang Hyang Antaga menjadi limbung, pandangan matanyapun dengan serta merta menjadi gelap, tidak sadarkan diri. Tubuhnya sekejap berubah kembali menjadi kecil dan luruh ambruk di atas bumi.

Kini gilliran Sang Hyang Ismaya, dengan kekuatan luar biasa Sang Hyang Ismaya memaksakan gunung Jamurdipa masuk ke dalam mulutnya. Oleh sebab tubuhnya lebih besar dari reksa denawa jelmaan Sang Hyang Antaga, maka dengan kekuatannya Sang Hyang Ismaya berhasil memasukan gunung Jamurdipa ke dalam mulutnya, dan lalu ditelan.

Sang Hyang Ismaya sempat tercekat, ia merasa seperti tercekik dan sulit bernafas saat gunung Jamurdipa tertelan masuk di kerongkongannya. Ia mengerahkan seluruh tenaga dan kesaktiannya hingga gunung itu pun langsung amblas ke dalam perutnya.

Seperi juga Hyang Antaga, Sang Hyang Ismaya sudah kehabisan seluruh tenaganya, ia merasa sudah tidak mampu lagi untuk mencoba memuntahkan kembali gunung Jamurdipa. Tubuhnya dingin dan lunglai, lalu seketika berubah kembali menjadi kecil, jatuh terkapar tidak sadarkan diri.

Sementara di Jonggring Salaka, Sang Hyang Tunggal yang sudah mengetahui peristiwa yang telah dialami kedua putranya hanya merenung. Ia pun menyesali atas kesalahannya waktu dulu, saat menyempurnakan wujud telur yang menjadi asal muasal mereka.

Seharusnya mereka tidak disempurnakan secara bersamaan, sehingga bisa dibedakan mana yang lebih awal tercipta dan untuk dituakan. Namun yang lebih disesalkan lagi adalah mereka sudah tidak mau mendengarkan nasehatnya sebagai orang tua, apa mau dikata, semuanya sudah terlanjur, dan mereka telah memilih jalannya masing-masing.

Alam kembali menjadi tenang, burung-burung berkicau dikegelapan pagi, dan angin berhembus semilir meniupkan nafasnya yang gemulai. Diantara basahnya embun pagi di atas dedaunan, dua sosok mahluk yang terkapar di atas tanah kini mulai bergerak hidup, menunjukan bahwa keberadaan mereka masih memiliki nafas.

Mereka yang tidak lain adalah Sang Hyang Antaga dan Sang Hyang Ismaya yang telah tidak sadarkan diri untuk beberapa saat lamanya, dan kini mulai terbangun dari sadarnya.

Keduanya masih terlihat bingung dan seperti sedang mengingat-ingat sesuatu. Baik Sang Hyang Antaga maunpun Sang Hyang Ismaya belum pulih total kesadarannya, mereka sama terkejutnya saat saling berhadapan. Dan Salah satu dari mereka lalu bertanya.

Siapa andika?

Yang ditanya menjawab sebagai Sang Hyang Antaga. Yang bertanya sontak terkejut seperti mendengar petir disiang bolong. Betapa tidak, yang mengaku sebagai Sang Hyang Antaga itu berpenampilan buruk rupa.

Penampilan dan mukanya sangat jauh dari Sang Hyang Antaga yang sangat ia kenal. Sang Hyang Antaga yang sangat ia kenali adalah sosok kesatria perkasa, sedangkan yang dihadapinya bisa dibilang lebih mirip dengan mahluk jadi-jadian sebangsa Jin atau Dedemit.

Tubuhnya pendek buncit, mukanya tidak seimbang dengan mulutnya yang sangat lebar menyerupai mulut angsa. Belum lagi habis rasa herannya, yang tadi mengaku bernama Sang Hyang Antaga balik bertanya.

Lah! Andika sendiri siapa?

Kini giliran dia menjawab dan mengaku bernama Sang Hyang Ismaya. Seperti juga Sang Hyang Ismaya, Sang Hyang Antaga pun terkejut bukan kepalang.

Sang Hyang Ismaya seharusnya berwajah elok dan bersinar seperti matahari, tapi yang mengaku Ismaya ini bertubuh gemuk berpantat besar, wajahnya pun sama sekali tidak mirip, sangat lebih tua.

Mereka berdua saling meyakinkan siapa mereka, dan baru tersadar saat mereka mencoba untuk mengenali bentuk tubuh masing-masing, merabai seluruh wajah dan tubuhnya. Mereka sama-sama terkejut dan menjadi sadar bahwa mereka berdua telah terkena kutukan orang tua mereka, Sang Hyang Tunggal.

Lalu mereka berdua menangis sejadi-jadinya sambil berangkulan seperti anak kecil. Dan kemudian memutuskan untuk kembali pulang ke Kahyangan Suralaya, menghadap Sang Hyang Tunggal.

Di Jonggring Salaka, di hadapan Sang Hyang Tunggal. Sang Hyang Ismaya dan Sang Hyang Antaga masih terus menangis memohon ampunan, mereka memohon ayahandanya untuk merubah kembali wujud mereka seperti semula. Namun Sang Hyang Tunggal tidak dapat mengabulkan permohonan mereka. Menurutnya ini sudah takdir dan kehendak Yang Maha Kuasa.

Sang Hyang Tunggal bersabda kepada para putranya bahwa dirinya akan segera mokswa ke alam sunyaruri, namun sebelumnya ia akan menunjuk salah satu dari putranya untuk menggantikannya menjadi Raja Tribuana di Kahyangan Suralaya.

Lalu Sang Hyang Tunggal menunjuk dan menobatkan Sang Hyang Manikmaya menjadi Raja Tribuana, dan kepada Sang Hyang Antaga juga Sang Hyang Ismaya, Sang Hyang Tunggal menyarankan mereka untuk turun ke marcapada apabila Sang Hyang Manikmaya kelak menurunkan keturunannya di Marcapada.

Sebagai Raja Tribuana, Sang Hyang Manikmaya diberi tugas untuk menentramkan marcapada. Sedangkan Sang Hyang Antaga bila saatnya nanti turun ke marcapada harus merubah namanya menjadi Togog (Togog Wijomantri).

Ia ditugaskan untuk mengasuh, mendidik dan memberi nasehat budi pekerti yang baik kepada para raja keturunan Sang Hyang Manikmaya yang berwujud raksasa. Kelak dikehidupannya nanti Togog akan menghamba dan ikut kepada para raja raksasa seperti raja-raja Lokapala hingga Alengka yang berasal dari keturunan Batara Sambu, putra sulung Sang Hyang Manikmaya.

Dan kepada Sang Hyang Ismaya, bila saatnya turun ke marcapada harus berganti nama menjadi Semar (Semar Badranaya). Ia ditugaskan untuk mengasuh para raja, brahmana, dan kesatria yang masih keturunan Sang Hyang Manikmaya.

Sebenarnya yang paling berat adalah tugas Sang Hyang Antaga, sebab ia disuruh memberi pelajaran budi pekerti, menasehati serta meluruskan para raja raksasa yang kebanyakan sifat dan perwatakannya penuh dengan angkara murka.

BACA JUGA:  Kisah Penyerangan Prabu Kalamercu


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *