Ikatan Psikologis Antara Soekarno dan Kennedy

1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Ikatan Psikologis Antara Soekarno dan Kennedy

Dari sederetan presiden AS dan Indonesia, hubungan J.F Kennedy dan Soekarno cukup menarik untuk disimak kembali. Alasannya, kedua presiden tersebut terbilang cukup dekat secara personal, memiliki ikatan psikologis yang kuat, dan visi perubahan dunia.

Sejarah mencatat, baik Soekarno dan Kennedy memiliki kesamaan dan saling terkesan atas pemikiran-pemikiran besarnya. Soekarno dengan konsep nasionalisme dan anti kolonialisme, sedangkan Kennedy dengan free world dan demokrasi. Lima hari setelah inagurasi Kennedy, Dubes AS di Jakarta, Howard Jones mengirim kawat diplomatik agar pemerintahan baru AS di bawah Kennedy serius melihat Indonesia.

Suksesi Eisenhower oleh Kennedy menurut kalkulasi Dubes Jones dapat membawa angin perubahan hubungan AS-Indonesia yang lebih positif. Ringkasnya, Kennedy harus secepatnya menyelamatkan Indonesia dari pengaruh komunis. Mengetahui Soekarno akan melawat ke sejumlah negara Amerika Latin, awal Januari 1961, kembali Dubes Howards Jones mengusulkan Kennedy mengundang Soekarno singgah di AS.

Setuju usulan tersebut, Kennedy akhirnya mengirimkan surat undangan kepada Soekarno. Dalam suratnya, Kennedy mengharapkan Soekarno dapat singgah, membahas kepentingan kedua negara, dan salingbertukar pandangan tentang isu-isu keamanan dan permasalahan global lainnya.Soekarno setuju dan merencanakan kunjungan ke Washington, tanggal 23-24 April 1961. Berbeda dengan umumnyaprotokoler AS, kedatangan Soekarno disambut langsung Kennedy dalam upacara kenegaraan dengansuasana akrab.


Di balik kejadian tersebut, penyambutan Kennedy di bandara sebenarnya merupakanpermintaan langsung Soekarno. Saat bertemu, Kennedy menyebut Soekarno sebagai George Washingtondan Thomas Jefferson-nya Indonesia.

Berbagai isu dibahas dalam pertemuan Kennedy-Soekarno, antara lain Irian Barat, politikidiologis global, termasuk nasib warga AS, Allan Pope yang ditahan Indonesia karena terlibat pemberontakan Permesta.

Saat berdialog mengenai Irian Barat, Kennedy mempertanyakan mengapa Indonesia gigih merebut kembali Irian Barat yang secara ras berbeda dengan kebanyakan ras Indonesia.

Soekarno dengan cerdik menjawab dengan menunjuk sosok Wamen Pertama, Leimena yang berdiri tidakjauh dari mereka. Maksud Soekarno, bahwa Leimena yang berasal Maluku memiliki persamaan fisik danpostur dengan penduduk Irian Barat. Lebih lanjut, Soekarno menerangkan bahwa Indonesia seperti halnyaAS yang terdiri berbagai suku dan ras.

Bagi Soekarno, pertemuan dengan Kennedy sangat berkesan. Sebagaimana diungkapkannya saat bertemu Presiden Meksiko, Mateos dalam lawatan lanjutan di Amerika Latin. Dalam pujiannya, Soekarnomelihat Kennedy sebagai figur cerdas, satu-satunya pemimpin AS yang memahami nasionalisme danmengharapkan membawa perubahan besar dunia, “You know what I liked about that young, sensitive,brilliant and beautiful fellow who occupies the White House? He is the first American leader to consider me as a person and not as just a number that can be added or substracted from the American balance sheet in the fight against communism.

Kennedy is the first American leader to realize that nationalism isstill the best defence against intruding foreign idiologies. I hope this brilliant young leader will live longenough to lead his people successfully through the dark political labyrinth that choked them and out intoa nice clearing in the sun”.

Kennedy dan Mediasi Irian Barat

Kennedy dan Mediasi Irian Barat

Masalah Irian Barat mulai menjadi isu penting politik Indonesia memasuki tahun 1950an. Sebagaimanahasil KMB yang memutuskan pembahasan kembali Irian Barat setahun setelah tahun 1949. Namun,Belanda cenderung ingkar janji dan mengulur-ulur waktu.

BACA JUGA:  Sejarah Gunung Slamet

Upaya bilateral Indonesia tahun 1950, 1952 dan 1954 tidak menghasilkan apapun bahkan menghadapi deadlock. Belanda mengklaim sebagaisebagai pemilik kedaulatan sah Irian Barat. Bahkan, Belanda memasukkan wilayah Irian Barat dalamKonstitusinya (Grondwet) tanggal 19 Februari 1952 tanpa berunding dengan Indonesia. Sebagaidukungan yudikatif, parlemen Belanda terus mem-veto upaya pemerintah Belanda dalam melakukanperundingan dengan Indonesia.

Memasuki awal tahun 1962, pertempuran skala kecil pecah antara Belanda-Indonesia. Sejumlah insiden kontak senjata, diantaranya pertempuran laut kedua pihak. Pada tanggal 15 Januari 1962, salahsatu kapal perang Indonesia, KRI Macan Tutul yang diawaki Komodor Jos Sudarso tengelam di Laut Arafuru.

Tengelamnya kapal perang Indonesia tersebut semakin memanaskan nasionalisme Indonesia. Publik Indonesia semakin panas menyuarakan serangan balasan. Menanggapi suasana genting tersebut,Soekarno mengirimkan Menlu Soebandrio guna bertemu langsung Kennedy di Washington.

Dalam pesannya, Soekarno meminta Menlu Soebandrio untuk tidak berdebat, namun hanya bertanya kepadaKennedy apakah dirinya lebih memilih Nasution atau Aidit, “Go and meet Kennedy. Don’t argue with him. Just give him the benefit of answering my single question. Which one does Kennedy prefer. Nasution or Aidit?”Pesan Soekarno sangat jelas, apakah Kennedy lebih memilih Indonesia yang anti komunisme atau pro komunisme sebagaimana gambaran Nasution (anti komunisme) atau Aidit (pro komunisme). Posisi AS secara umum terhadap konflik Irian Barat adalah netral, dan tidak ingin ikut campur.

Namun demikian, merujuk kemungkinan eskalasi militer antara pasukan Indonesia dan Belanda akhirnya memaksa AS turut campur. Sebagai upaya mediasi, Kennedy akhirnya mengirimkan adiknya, Jaksa Agung, Robert Kennedy ke Jakarta, 11 Februari 1962 guna membujuk Indonesia menghindari konflik militer. Robert Kennedy menyampaikan surat langsung Kennedy, meminta Soekarno berunding dengan Belanda tanpa syarat.

Robert Kennedy juga membawa pesan yang sama untuk Denhaag, yaitu menghindari konfrontasi militer dengan Indonesia. Bahkan, Robert Kennedy juga mewanti-wanti, bahwa AS tidak akan membantu Belanda jika terjadi konfrontasi militer dengan Indonesia.

Mediasi AS bergerak cepat. Untuk menenangkan Indonesia, Kennedy kembali mengirimkan diplomat seniornya, Dubes Ellsworth Bunker. Sebagai hasilnya, Indonesia maupun Belanda sepakat melakukan pertemuan bilateral rahasia, tanggal 20 Maret 1962 di Middleburg, Virginia, AS. Belanda diwakili Dubesnya di PBB, Dubes Dr. Jan H. van Roijen dan C.WA. Schurmann, sedangkan Indonesia diwakili Dubes Indonesia di Moskow, Adam Malik dan Sudjarwo Tjondronegoro (Deplu).

Akhirnya, Indonesia dan Belanda menyetujui kesepakatan damai sesuai usulan proposal Bunker tanggal 12 Juli 1962. Indonesia setuju prinsip “self-determination” dan Belanda setuju mengembalikan Irian Barat ke Indonesia. Kesepakatan Middleburg Accord tersebut akhirnya ditanda tangani Belanda yang di wakili Van Royen dan Indonesia yang diwakili Menlu Soebandrio di PBB, 15 Agustus 1962.

Dalam kesepakatan tersebut, dibentuk UNTEA yang bertugas mengambil alih kekuasaan Belanda yang kemudian secara bertahap menyerahkan ke Indonesia. Tercapainya solusi Irian Barat merupakan keberhasilan mediasi Kennedy. Dalam komentarnya, Kennedy mengakui peran mediasi AS tidak mudah dan tidak dapat menyenangkan semua pihak, “the role of a mediator is not a happy one, but that the U.S government was prepared “to make everybody mad” if progress could be made toward a solution”.

AS memang punya kepentingan terselesaikannya masalah Irian Barat secara damai, menghindari konflik yang akan melibatkan negara-negara besar di belakangnya. Pasca penyelesaian damai Irian Barat mulai mendekatkan hubungan Indonesia-AS.

BACA JUGA:  Misteri Kutukan Tutankhamen

Dalam National Security Action Memorandum, 16 Agustus 1962 “U.S Policy Toward Indonesia”, Kennedy berharap hubungan AS-Indonesia pasca penyelesaian damai Irian Barat membawa kearah baru yang lebih baik, “With a peaceful settelemnt of the West Irian dispute now in prospect, I would like to see us captualize on the US role in promoting this settlement to move forward a new and better relationship with Indonesia”. Selain itu, Kennedy juga menginstruksikan jajarannya untuk membantu Indonesia. Secara luas, langkah Kennedy tersebut sebagai upaya mendepak pengaruh komunis di Indonesia. Sebagai ungkapan terima kasih, Soekarno juga mengijinkan pengiriman misi Peace Corps AS ke Indonesia. Misi tersebut merupakan gagasan Kennedy yang melibatkan generasi muda AS dalam upaya “Spirit of the New Frontier”.

Kepergian Kennedy

Kepergian Kennedy

Menjelang tahun 1963, hubungan Indonesia-AS sedikit terganggu menyusul konfrontasi Indonesia dengan Malaysia. Walaupun mendukung Federasi Malaysia, Kennedy berharap agar Soekarno menghentikan konfrontasi tersebut.

Bahkan, Kennedy berharap kepada Soekarno bahwa langkah konfrontasinya akan menganggu bantuan ekonomi AS di Indonesia. Akhirnya, sebagai bentuk intervensi, Kennedy pernah berjanji kepada Soekarno bahwa dirinya akan berkunjung ke Jakarta, dengan syarat penghentian konfrontasi. Soekarno setuju gagasan Kennedy.

Namun, rencana besar tersebut gagal menyusul terbunuhnya Kennedy, 22 November 1963. Dunia kaget, termasuk Dubes AS di Jakarta, Howard Jones. Dalam pengakuannya, Jones berujar “The light had gone out of the day. The assasin’s bullet put an end to our plans and disposed of the immediate prospects for settlement of the Malaysia dispute”.

Asumsi Jones, bahwa Kennedy satu satunya kartu truf AS yang mampu memediasi Indonesia, Inggris dan Malaysia. Saat mendengar terbunuhnya Kennedy, Soekarno sangat sedih dan menangis. Sambil mengusap air mata yang jatuh dipelupuk matanya, Soekarno
mengucap “the good die young”.

Terungkap dalam tulisan Cindy Adam, Soekarno sangat menunggu janji kedatangan Kennedy yang dijadwalkan awal tahun 1964. Untuk menyambut kunjungan tersebut, Soekarno telah membentuk tim arsitek untuk membangun tempat persinggahan khusus (wisma) di Jakarta untuk Kennedy dan delegasinya, “President Kennedy had promised to visit in the spring of 1964. I was so exited that I put a team of architects and engineers onto eadying a special guest house for him on the grounds of the palace. I am very sorry that he never came”.

Sejarah berkenan lain, Kennedy tidak bakal ke Indonesia. Dan, sejarah memilih alurnya sendiri.


2 TANGGAPAN untuk “Ikatan Psikologis Antara Soekarno dan Kennedy

  1. Tulisan tersebut diatas adalah tulisan saya yang dipublikasikan di Media Indonesia, Los Angeles dengan judul Sisi Menarik Hubungan Kennedy dan Soekarno. Mohon menghargai IPR, terima kasih

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *