Letusan Gunung Api dan Banjir Gunung Lumpur Era Majapahit

Secara geologi, wilayah ibukota Majapahit berada di dua kawasan yang rawan bencana yaitu gunung api dan bencana gunung lumpur.

Letusan Gunung Api dan Banjir Gunung Lumpur Era Majapahit

Gambaran suasana kehidupan di Era Majapahit

Ke sebelah selatan-tenggara Trowulan terdapat gunung-gunung api yaitu Kelud, Anjasmoro, Welirang dan Arjuno. Dalam sejarah, juga sampai kini gunung-gunung api ini aktif dan belum mati. Kitab Pararaton mencatat berkali-kali terjadinya letusan gunung api selama masa Singasari dan Majapahit.

Sampurno (1983, lihat Daldjoeni, 1992) menunjukkan letusan gunung api dari kompleks gunung Anjasmoro, Welirang,  dan Arjuno 25 km di sebelah tenggara Majapahit sebagai kemungkinan penyebab bencana yang melanda Majapahit dan tercatat dalam babad ”Guntur Pawatugunung”.


Aliran piroklastika dari kompleks gunung api ini diperkirakan melalui kali Gembolo dan anak-anak sungai Brantas menuju utara dan barat laut. Aliran longsoran piroklastika juga bisa berasal dari wilayah Gentong gowahgede di lereng gunung api melalui lembah Jurangc elot menghambur ke daerah Jatirejo dan berakhir di wilayah pusat kerajaan Majapahit.

Longsoran itu dapat diawali oleh gempa hebat dan banjir sungai besar. Sampurno (1983) menyatakan bahwa Kerajaan Majapahit seakan-akan lenyap segalanya pada suatu saat dihancurkan oleh suatu bencana hebat.

Majapahit pun terletak di tepi suatu kawasan dalaman geologi (depresi) bernama Dalaman Kendeng yang terkenal banyak memunculkan gunung-gunung lumpur di seluruh areanya (Satyana, 2007). Dalaman Kendeng memanjang di sebelah utara Pulau Jawa dari sekitar sebelah selatan Semarang melebar ke Solo, lalu memanjang ke sebelah timur sampai Surabaya melebar ke Pasuruan termasuk sepanjang Selat Madura.

Di dalaman yang mengalami penurunan dengan cepat ini, sedimen sangat tebal berumur muda yang diendapkan dengan cepat. Karena diendapkan dengan cepat, sedimen yang diendapkan tidak pernah mengalami proses pembatuan yang sempurna, atau dikatakan sedimen itu tidak mengalami kompaksi sempurna.

Gambaran bencana gunung api di era majapahit

Gambaran bencana gunung api di era majapahit

Gunung lumpur selain meletuskan lumpur dan batu, ia juga meletuskan air panas dan gas hidrokarbon (misalnya gas metana) maupun gas non hidrokarbon seperti CO2. Karena ada gas hidrokarbon, maka kemungkinan dapat terbakar sangat besar, sehingga sebuah letusan gunung lumpur dapat berbahaya.

Bahaya selanjutnya adalah wilayah letusan gunung lumpur kemudian akan mengalami penenggelaman karena materi lumpur dan batuan yang telah diletuskannya menyebabkan kekosongan massa di bawah sehingga daya dukung tanah hilang dan area akan tenggelam atau runtuh.

Majapahit terletak di tepi selatan Dalaman Kendeng. Dalaman Kendeng ini juga secara termal relatif lebih panas karena terletak dekat dengan jalur gunung api Jawa. Panas ini akan lebih meningkatkan mobilitas sedimen tidak kompak yang diendapkan di Dalaman ini.

Dalaman Kendeng yang memanjang barat-timur ini pun tertekan secara kuat tegak lurus dari arah selatan ke utara oleh gaya geologi akibat penekanan kerak Samudera Hindia terhadap Pulau Jawa. Maka retakan-retakan berupa patahan atau sesar mudah terbentuk di Dalaman Kendeng, yang akan menyebabkan sedimen tak kompak menemukan jalannya untuk mencuat ke atas sampai permukaan dan jadi gunung lumpur.

Telah banyak gunung lumpur terjadi di Dalaman Kendeng ini, misalnya Bledug Kuwu, yang meletus sampai sekarang, Gunung Sangiran yang meletus ratusan ribu tahun yang lalu, atau LUSI (Lumpur Sidoarjo) yang terus meletus dari tahun 2006, bahkan di dasar laut Selat Madura.

BACA JUGA:  Hubungan Kerajaan Luwu dan Kerajaan Majapahit


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *