Ramalan Joyoboyo

ramalan Joyoboyo.Sebahagian besar ummat islam yang ada di Indonesia terlebih-lebih lagi umat islam yang ada di luar negeri tidak mungkin mempercayai cerita akan munculnya tokoh Satrio Piningit.

Alasan mereka enteng-enteng saja dan amat sangat sederhana kalau tidak ingin dikatakan menggampangkan atau menganggapnya sepele.

Mereka tentu akan mengatakan kalau cerita itu tidak ada dasar haditsnya dan tidak ada ayatnya dalam Alqur’an, apa lagi Satrio Piningit hanya ramalan Joyoboyo.

Dalam fiqhi Islam, haram hukumnya mempercayai ramalan. Bagi ummat islam keturunan Jawa, mereka bersikap lebih moderat dan santun karena takut kuawalat pada leluhurnya mengingat ramalan Joyoboyo ini sudah berusia ratusan tahun, dan dipercaya oleh leluhur mereka.
 
Ummat islam yang bergaris keras tegas, yang menghitamputihkan persoalan, yang mengharamkan ramalan bersikap ambivalen dan pembual. Mereka mengharamkan ramalan akan tetapi menghalalkan prediksi.

Terminologi “ramalan” adalah menyampaikan sesuatu yang belum terjadi tapi akan terjadi. Makna kata “prediksi” atau “perkiraan” tidak ada bedanya dengan “ramalan”. Prediksi atau perkiraan dapat diterima oleh ummat islam karena rentang waktu kejadiannya relatif singkat, meski prediksi atau perkiraan bermakna ramalan juga.
 
Parameter untuk mengetahui benar tidaknya sebuah ramalan hanya dua. Pertama, rentang waktu yang panjang antara saat ramalan pertama kali disampaikan dengan waktu kejadiannya. Kedua, jumlah manusia yang percaya (beriman) apakah semakin bertambah atau berkurang yang pada ahirnya punah, habis ditelan bumi.


Kedua parameter di atas dipenuhi oleh ramalan Joyoboyo, waktu yang panjang dan orang yang percaya semakin bertambah dan tidak terbatas di pulau Jawa saja. Beda halnya dengan penganut kepercayaan “Tolotang” (berafiliasi ke agama hindu) di kabupaten Sidrap – Sulawesi Selatan.

Cahyo Nayaswara telah melakukan penelitian dan menyimpulkan bahwa aliran itu menganut faham animisme yang bersumber dari ajaran Lagaligo. Mereka menunggu munculnya seorang tokoh yang bernama Sawerigading (putera Lagaligo) untuk yang kedua kalinya. Pemimpin spiritual mereka disebut uwak. Semua pengikut tunduk pada perkataan uwaknya.

Aliran ini juga meramalkan dan meyakini akan munculnya seorang tokoh penyelamat. Kepercayaan ini sudah berusia seribu tahun lebih dan pengikutnya sekarang tinggal beberapa ratus Kepala Keluarga saja. Karena parameter kedua tidak terpenuhi maka kami kesampingkan. Ramalan mereka tidak memenuhi syarat untuk bisa dijadikan rujukan dalam mencari kebenaran sebuah ramalan.  
 
Kiamat adalah peristiwa yang belum terjadi akan tetapi sudah lama dijanjikan. Kiamat pertama kali dijanjikan pada masa nabi Nuh alaihissalam. Janji kiamat masih berlaku sampai hari ini dan entah sampai kapan.

Hanya Allah yang tahu karena Dia yang berjanji, maka biarlah Tuhan sendiri yang membuktikan janjiNya. Janji Tuhan sifatNya pasti. Ummat islam dan kristen meyakini janji Tuhan karena janji itu terdapat dikitab sucinya. Sedang hindu, budha dan kong hu chu bersikap moderat karena janji itu tidak terdapat di dalam kitabnya.
 
Joyoboyo bukan Tuhan, karena itu kebenaran yang dia sampaikan menggunakan kata “ramalan” sebab hanya kata itu yang pas digunakan untuk membedakan dirinya dengan Tuhan meskipun apa yang disampaikan sama-sama mengandung nilai kebenaran.

Janji Tuhan bersifat pasti dan janji Joyoboyo sifatnya relatif. Untuk membuktikan relatifitasnya maka digunakan kata yang tepat yaitu “ramalan”. Ummat islam yang beriman (percaya) kepada ramalan Joyoboyo tidak dapat dikategorikan sebagai musyrik oleh karena adanya kata pembuka “ramalan” (relatif) tersebut.

Perlu kami tegaskan bahwa kami tidak beriman (percaya) terhadap semua penafsiran-penafsiran terhadap “ramalan” Joyoboyo yang ada di internet atau yang dijual bebas di toko buku dan pasar-pasar, siapapun yang melakukan penafsiran itu dan apapun latar belakang mereka. Semua penafsiran “ramalan” Joyoboyo yang tidak menjadikan Alqur’an sebagai rujukan utama sepatutnya ditolak.

Bersambung…


3 TANGGAPAN untuk “Ramalan Joyoboyo

  1. Kalau weda dlm agama hindu udah di akui oleh dunia tentang kebenarannya dn dharmanya. Dn biarpun kami di bilang agama bumi tpi kami ngk pernah jadi teroris dn kehidupan kami slalu rukun. Dan yg jelas kami tidak melupakan jati diri kami sebagai orang indonesia bukan orang arab. Satu lgi yg harus dingat janganlh kita lupa karakter dn jati diri sebagai orang jawa. Eling kaula ring gusti

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *