Mitos Seputar Penguasa Laut Selatan

Mitos Seputar Penguasa Laut Selatan

Mitos penguasa Laut Selatan ini sudah sedemikan kental dalam kultur Jawa. Antara dipercaya dan tidak dipercaya. Antara dihubungkan dengan dogma agama (dan jelas ditolak) dengan kepercayaan adat kejawen. Siapa yang tidak kenal nama Nyi Roro Kidul, sosok putri cantik mengenakan pakaian kebesaran adat Jawa (Jogja) berwarna dominan hijau gadung, berkendaraan kereta kencana dengan ditarik kuda-kuda putih nan gagah, melintasi gulungan ombak Laut Selatan, menuju ke arah utara, Gunung Merapi, melewati Kraton, istana Kasultanan Jogjakarta Hadiningrat, kadang-kadang mampir ke sana-kemari, menambah pengikut.

Saat itulah muncul banyak penyakit yang membawa kematian. Masa-masa seperti itu lazim di sebut dengan istilah”Pageblug”. Dan kejadian ketika kereta kuda tersebut lewat (jaman dulu dipercaya bahwa saat kereta berkuda itu lewat, terdengar bunyi kerincingan kuda di udara) disebut dengan nama”Lampor”. Orang-orang harus bergegas masuk ke dalam rumah dan memadamkan lampu (jaman sekarang ada PLN (Perusahaan Lampor Negara ??) yang memadamkan lampu), sehingga sang Nyai tidak melihat ada orang di dalam rumah (terutama para pemuda). Hal ini sering juga dipakai sebagai alat untuk menakut-nakuti anak-anak yang nakal dan bandel tidak mau pulang dari bermain, meskipun hari telah gelap.

BACA JUGA:  Salah Satu Kisah dari Versi yang Lain Tentang Kanjeng Ratu Kidul

Para wisatawan yang berkunjung ke pantai-pantai selatan di beri peringatan untuk tidak mengenakan pakaian berwarna hijau, baik hijau daun maupun hijau lumut, karena akan dianggap menyamai pakaian Sang Ratu, dan itu jelas tidak sopan, menyalahi tata krama, dan sebagai akibatnya, si pemakai harus menanggung derita menjadi pelayan atau tawanan di kerajaan Laut Selatan. Arti secara kasat mata ya si pemakai baju hijau akan hilang diseret ombak Laut Selatan. Kadang jasadnya ditemukan dalam kondisi meninggal, kadangkala hilang lenyap tak berbekas.

Ada keterangan ilmiah mengenai hal ini. Warna laut di wilayah Laut Selatan adalah kehijau-hijauan, sehingga orang yang terseret ombak akan sangat sulit ditemukan, karena terkamuflase dengan warna air laut. Sementara itu di bawah gelombang air laut pantai selatan, banyak terdapat pusaran-pusaran air yang tidak terlihat dari permukaan laut.
Pusaran-pusaran tersebut dapat menyedot seseorang yang terlanjur terseret ombak, sehingga kemungkinan untuk di temukan akan sulit. Oleh karena itu, selalu ada larangan untuk berenang di Laut Selatan, dan hampir tidak ada nelayan yang melaut di sekitar Laut Selatan, karena ombaknuya cukup ganas dan pusaran airnya kadang tidak dapat diduga keberadaannya (berpindah-pindah tempat).


BACA JUGA:  Kronologis Harta Amanah Bangsa Indonesia

Sebagian besar orang hanya mengenal satu nama saja, dalam hal ini, adalah Nyi (Nyai) Roro Kidul, sebagai sang penguasa lautan. Namun sebenarnya itu tidak benar. Kesalahkaprahan yang hampir tidak tertoleransi lagi, karena minimnya data, info dan sebagian orang menganggap itu hanya dongeng semata yang tidak terlalu penting di cari kebenarannya.

Nyai/ Nyi Roro Kidul TIDAK SAMA dengan Kanjeng Ratu Kidul. Nyi Roro Kidul adalah patih sang Ratu. Tugasnya adalah menjadi jubir dan beredar kian kemari melaksanakan tugas. Itu sebabnya Nyai Roro Kidul lebih di kenal dari sang Ratu dan dianggap sebagai sang Penguasa Laut Selatan.
Misteri Kanjeng Ratu Kidul, benarkah ada atau sekedar mitos semata ?
Siapakah sesungguhnya Kanjeng Ratu Kidul itu? Benarkah ada dalam kesungguhannya, ataukah hanya dikenal dalam dongeng saja?


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *