Para Penentang Ajaran Kristen Trinity

BILIKMISTERI.WEB.ID ~ Lanjutan dari artikel Munculnya Paham Baru Dalam Ajaran Yahudi. Sebenarnya doktrin Trinitas ini telah lama ditentang keras oleh para pengikut Kristen Unitarian, bahkan mereka yang menentang keras adalah dari kalangan Uskup Gerejani yang lebih luas ilmu ke-Bibel-annya. Diantara mereka yang menentang keras beserta biografi singkatnya adalah :

IRANAEUS (130-200 M)

Ia dilahirkan pada saat agama Kristen yang berpusat di Antiokia telah menyebar di Afrika Utara sampai ke Spanyol dan Prancis Selatan. Uskup Lyon yang bernama Pothinus, pernah menyuruh Iranaius membawakan surat petisinya ke Paus Eleutherus (174-189) di Roma.

IRANAEUS (130-200 M)Dalam petisi itu, Pothinus memohon agar Paus menghentikan pembunuhan terhadap orang-orang Kristen yang menolak doktrin Trinitas. Disaat Iranaeus masih berada di Roma, dia mendengarkan berita pertikaian antar kelompok Kristen yang mengakibatkan Uskup Pothinus terbunuh. Setelah ia pulang ke Lyon, ia menggantikan Pothinus.

Tahun 90 M, dia menulis surat kepada Paus Viktor I (189-198 M) untuk menghentikan pembunuhan terhadap orang-orang Kristen yang berbeda keyakinan. Kerusuhan antar kelompok terulang lagi, dan pada tahun 200 M, dia dibunuh oleh kelompok Trinitas yang dimotori oleh Paus Viktor I.

Iranaeus meyakini bahwa Yesus bukanlah Tuhan, melainkan hanya manusia biasa yang diutus oleh Allah. Dia melontarkan kritik tajam terhadap Paulus, dan menudingnya sebagai orang yang harus bertanggung jawab atas penyusupan ajaran-ajaran politeisme dan filsafat Plato ke dalam ajaran agama Kristen.


Dalam menyampaikan ajaran yang diyakininya, Iranaeus sering mengutip ayat-ayat yang termaktub dalam Injil Barnabas. Beberapa abad kemudian, setelah membaca tulisan-tulisan Iranaeus, Fra Marino, sangat tertarik untuk mengetahui Injil Itu, akhirnya dia menemukan Injil Barnabas berbahasa Itali di Papal Library Vatikan.

TERTULIAN(160-220 M)

TERTULIAN(160-220 M)Ia berasal dari Kartago, kemudian ia menjadi tokoh Gereja Afrika. Dia adalah seorang Unitarian yang mengidentikan Yesus dengan Mesiah dalam agama Yahudi. Dia sangat menentang Paus Calixtus (217-222) yang mengajarkan bahwa dosa besar itu bisa diampuni setelah melakukan taubat secara kanonik.

Diantara pernyataan Tertulian yang masih tercatat sampai sekarang adalah : “Mayoritas manusia berpendapat bahwa Yesus adalah manusia biasa”. Dialah yang pertama kali memperkenalkan istilah “Trinitas” dari bahasa Latin sewaktu membahas doktrin yang dipandangnya sangat aneh itu, sebab istilah seperti itu tidak pernah ada dalam kitab suci.

ORIGEN (185-254 M)

Dia dilahirkan di Iskandariah Mesir. Bapaknya, Leonidas, mendirikan pusat pendidikan theologi dan menunjuk Clement sebagai kepalanya. Gereja Paulus (Trinitas) sangat membenci Leonidas, karena menganut Unitarian yang disebarkan oleh murid-murid Yesus (Apostolic Christianity), dan sangat menolak ajaran Paulus.

ORIGEN Oleh karena itu pihak gereja Paulus membunuhnya pada tahun 208 M. Peristiwa itu sangat menggores hati Origen sehingga ia ingin mempertaruhkan nyawanya untuk menuntut balas atas kematian ayahnya, namun ia dicegah ibunya. Gurunya, Clement, merasa terancam dan terpaksa harus meninggalkan Iskandariah.

Karena ayahnya terbunuh dan gurunya telah meninggalkannya, Origen menggantikan Clement sebagai kepala sekolah theologi. Dalam kedudukannya yang baru itu, ia terkenal sebagai cendekiawan yang pemberani. Kesalehan dan semangatnya yang tinggi diilhami oleh sebuah ayat dalam Injil Matius : 19: 12 :

“Ada orang yang tidak dapat kawin karena memang ia lahir demikian dari rahim ibunya, dan ada orang yang dijadikan demikian oleh orang lain, dan ada orang yang membuat dirinya demikian karena kemauannya sendiri oleh karena kerajaan sorga. Siapa yang dapat mengerti hendaklah ia mengerti.”

Pada tahun 230 M, Origen menjadi pengkhotbah di Palestina, tetapi uskup Demerius memecat dan membuangnya. Dia pergi ke Caesarea dan membangun pusat pendidikan yang sangat terkenal di kota itu. Konsili Iskandariah tahun 250 M, menjatuhkan kutukan terhadap Origen.

Dia ditangkap dan menjalani siksaan hingga menemui ajalnya tahun 254 M, karena menolak keras ajaran Trinitas Paulus. Origen berkeyakinan bahwa “Allah adalah Maha Agung dan Yesus hanyalah hamba biasa yang derajatnya sangat tidak sebanding dengan Allah”. Origen adalah ahli sejarah gereja yang termasyhur.

Ia dikenal sebagai sosok yang yang memiliki sifat-sifat terpuji sebagai guru kebenaran dan sangat dicintai murid-muridnya. Pihak gerejani juga mengakui kehebatan dan keluasan ilmu yang dimiliki Origen serta tiada yang sebanding dengannya di kalangan cendekiawan Kristen saat itu. Dia telah menulis kurang lebih enam ratus risalat dan makalah.

DIODORUS

DIODORUSDia adalah seorang Uskup di Tarsus, kota kelahiran Paulus. Dia termasuk salah satu tokoh besar Kristen Antiokia. Dia berpendapat bahwa “Alam semesta ini selalu dalam perubahan. Dan proses perubahan itu pasti ada periode awalnya yang berasal dari yang Maha Abadi dan Maha Tidak Berubah-ubah. Yang Maha Abadi itulah sang Pencipta yang Maha Esa. Yesus itu berkodrat manusiawi baik rukhani maupun jasmani, dan sama sekali tidak memiliki kodrat ilahi (ke-Tuhan-an)”.

LUCIUS (meninggal 321 M)

Dia adalah pakar Theologi yang sangat menguasai bahasa Ibrani dan Yunani, dia juga sangat taat kepada Allah. Dia diluar lingkungan Gereja sejak tahun 220 – 290 M. Kesalehan serta ilmunya yang sangat luas mengundang kekaguman semua orang. Perguruan di Antiokia yang dipimpinnya menelorkan aliran Arianisme yang dicetuskan oleh muridnya yang bernama ARIUS.

LUCIUSDalam memahami kitab sucinya, ia selalu berpegang teguh pada penafsiran dari tata bahasa beserta pengertiannya secara lahiriah dan sangat kritis. Dia sangat menentang penafsiran yang diambil dari pengertian simbolik dan allegoris.

Lucius berpendapat, adanya pertentangan paham yang sangat tajam di tubuh Gereja telah membuktikan, bahwa orang-orang Kristen berpedoman pada ajaran yang bersumber dari tradisi tulisan dan mengesampingkan tradisi lisan.

Padahal, Yesus dan para muridnya sama sekali tidak pernah mencatat ajaran Yesus, sedangkan tradisi tulisan berasal dari orang-orang yang tidak pernah menjadi murid asli Yesus.

Tragedi ini menunjukkan, ajaran Yesus yang asli lebih cepat lenyap disebabkan kekacauan isi ajaran yang berkembang hingga penghujung abad ketiga Masehi. Lucius merevisi Septuaginta (naskah Al-Kitab yang berbahasa Yunani).

Dia banyak membuang perubahan-perubahan yang telah disisipkan ke dalam Al-Kitab, ketika disalin ke dalam bahasa Yunani. Dia berkeyakinan bahwa “Yesus sama sekali bukan Tuhan, melainkan hanya sebatas hamba-Nya saja”. Karena tetap dalam keyakinan seperti itu, ia akhirnya ditangkap dan disiksa sampai mati pada tahun 312 M.

 ARIUS (250-336 M)

Kehidupan Arius ini sangat erat hubungannya dengan Constantin, seorang kaisar Imperium Romawi. Kaisar Constantin ini sangat menaruh perhatian kepada Gereja yang berawal dari kekhawatirannya terhadap kedudukannya di Roma. Ia merasa cemburu terhadap putra mahkotanya yaitu Cripus.

 ARIUS Putranya ini sangat masyhur karena posturnya yang sangat menawan, sikapnya yang sangat ramah serta keberaniannya dimedan pertempuran. Agar namanya tidak tertutup oleh kemasyhuran putra kandungnya ini, kaisar Constantin membunuh Cripus. Kematian Cripus ternyata membawa duka mendalam bagi seluruh rakyat Romawi.

Dibalik pembunuhan itu, ada berita bahwa ibu tiri Cripus, menginginkan putra kandungnya sendiri yang akan menjadi kaisar setelah Constantin, sehingga ia berniat untuk menghabisi Cripus. Kaisar Constantin mengetahui hal itu dan menjatuhi hukuman mati kepada ibu tiri Cripus tersebut dengan membenamkannya kedalam air mendidih.

Para pendukung permaisuri (ibu tiri Cripus) itu akhirnya bergabung dengan para pecinta Cripus untuk menuntut kematian kedua orang tersebut. Kaisar Constantin yang dalam posisi tersudut, lalu meminta bantuan pendeta kuil Yupiter di Roma.

Tetapi pendeta kuil tersebut mengatakan bahwa tidak ada korban atau kebaktian yang bisa menghapus dosa pembunuhan tersebut. Suasana yang tegang di Roma membuatnya merasa tidak tentram, sehingga ia pergi ke Bizantium.

Setelah ia sampai disana, dia mengubah nama kota di pinggir selat Bosporus itu menurut namanya “Constantinopel”. Ditempat inilah dia melihat perkembangan Gereja Paulus yang menakjubkan. Kaisar ini mendapatkan pengajaran bahwa jika ia mau bertobat dan mengakui dosanya di Gereja, maka dosa-dosanya akan diampuni.

Kesempatan ini dipergunakan dengan sebaik-baiknya oleh kaisar Constantin untuk membersihkan nama dan tangannya yang telah berlumuran darah dua pembunuhan dan keputusan-keputusan jahat selama ia berkuasa. Setelah merasa terbebas dari beban dosa, diapun mulai mencurahkan pikirannya untuk memecahkan permasalahan yang ada didalam Imperiumnya.

Dia melihat adanya kemungkinan untuk memperalat Gereja untuk meraih tujuannya dan menunjukkan loyalitasnya, dengan cara memberi kebebasan kepada Gereja untuk berkembang, yang sebelumnya ditindas dan dibinasakan oleh Kaisar Diolektianus (284-305 M).

Berkat dukungan Constantin inilah perkembangan Gereja semakin pesat dan kuat. Sebaliknya, ia mendapat keuntungan yang luar biasa besarnya, karena wilayah sekitar Laut Tengah telah dipenuhi Gereja, yang pemeluknya dapat dipergunakan untuk mendukungnya di medan perang.

Bantuan para pendeta sangat penting untuk menyatukan seluruh Eropa dan Timur Tengah dibawah kekuasaan kaisar Constantin. Sebagai ucapan terima kasih kepada para pendeta Kristen di satu sisi dan untuk menyudutkan para pendeta kuil Yupiter di sisi lainnya, dia mengajak Uskup Roma untuk membangun Gereja yang besar dan megah di kota Roma.

Dari posisi terjepit di kota itu, mengakibatkan agama Kristen diberi fasilitas-fasilitas yang luar biasa oleh Constantin. Disamping itu, dia membiayai pembangunan Gereja yang besar dan megah di bukit Zion (Yerusalem).

Bersambung

BACA JUGA:  Misteri Kisah Sanghyang Nurrasa


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *