Asal-Usul Samudera Hindia

BILIKMISTERI.WEB.ID – Sekalipun samudera ini sudah sangat terkenal, tampaknya tidak sedikit orang yang belum mengetahui sejarah dari samudera tersebut. Untuk mengetahui seluk beluk Samudera Hindia beserta proses terbentuknya samudera, mari simak uraian di bawah ini.

Asal-Usul Samudera Hindia1

Samudera Hindia merupakan salah satu samudera terbesar/terluas didunia. Total luasnya diperkirakan mencapai 68.556 juta km², dengan panjang pantai hingga 66.526 km.

Ada beberapa lautan yang masuk dalam kawasan Samudera Hindia, contoh Laut Arab, Laut Andaman, Teluk Persia, Laut Merah, Laut Selat Malaka, dan masih banyak lagi.

Samudera ini dibatasi oleh beberapa benua, seperti Asia, Afrika, dan juga Australia dibagian timurnya. Samudera Hindia pun menjadi muara dari berbagai sungai besar, misalnya Sungai Zambezi, Shatt al-Arab, Indus, Narmada, Gangga, dan masih banyak lagi.


Samudera ini sendiri diketahui memiliki iklim yang sangat dipengaruhi oleh angin monsoon atau angin muson yang bertiup secara periodik.

Samudera Hindia yang menghubungkan banyak negara dibeberapa benua menjadi jalur perdagangan yang cukup kondusif. Oleh karena itu, sejak dulu sudah banyak orang-orang yang mengarungi lautan Hindia untuk mencapai negara lain demi berdagang.

Untuk lebih mengetahui asal-usul Samudera Hindia, baiknya kita simak artikel mengenai proses pembentukan samudera berikut ini.

Pada kira-kira 3 Ga (giga anum) terbentuk ratusan mikrokontien dan busur kepulauan yang disebut Ur, yang antara lain terdiri dari apa yang kita kenal sekarang sebagai Afrika, India, Australia, dan Antartika.

Pada sekitar 1,2 Ga yang lalu, fragmen-fragmen kerak benua berkumpul menjadi satu membentuk satu superkontinen yang disebut Rodinia melalui gerak tektonik lempeng.

Kata “Rodinia” berasal dari bahasa Rusia yang berarti “homeland” atau “daratan asal” (Burke Museum of Natural History and Culture, 2004). Superkontinen Rodinia dikelilingi oleh samudera tunggal yang disebut Pan-Rodinia Mirovoi Ocean (vide, Cawood, 2005).

Pada 830 Ma, Superkontinen Rodinia terbelah menjadi Gondwana Barat dan Gondwana Timur. Peristiwa ini menghasilkan Samudera Mirovoi, Mozambique, dan Pasifik.

Kemudian pada 630 Ma, pecahan kontinen tersebut berkumpul kembali dan membentuk Superkontinen Gondwana atau Pannotia. Pembentukan superkontiken ini melibatkan penutupan Samudera Adamastor, Brazilide, dan Mozambique.

Pada 530 Ma, Superkontinen Gondwana terbelah menjadi Lauresia (inti benua yang sekarang disebut Amerika Utara), Baltika (Eropa Utara), Siberia, dan Gondwana.

Peristiwa ini menyebabkan terbukanya Samudera Pasifik dan Iapetus di sisi barat dan timur Laurensia, dan menutup Samudera Mirovoi atau Mozambique.

Pada kira-kira 300 Ma, pecahan-pecahan superkontinen itu berkumpul kembali dan membentuk superkontinen yang ke-tiga yang disebut dengan Pangea (Cawood, 2005).

Pembentukan Superkontinen Pangea ini terjadi melalui penutupan samudera dan pembentukan pegunungan Gondwana, Laurussia dan Siberia, serta penyelesaian pembentuka Pegunungan Altai.

Akhirnya, pada sekitar 200-150 Ma, Superkontinen Pangea terbelah membentuk konfigurasi benua dan samudera seperti yang sekarang.

Terbelahnya superkontinen ini menyebabkan lahirnya Samudera Atlantik, Antartika dan Hindia, serta penyempitnya Samudera Pasifik; pembentukan Pegunungan Himalaya dan Kepulauan Indonesia.

Lalu setelah terbentuk cekungan dan tinggian, Bagaimana bisa terdapat massa air yang begitu besar untuk mengisinya?

Salah satu alasannya adalah adanya proses hujan terus menerus yang terjadi di atmosfer, di masa awal terbentuknya atmosfer bumi.

Hujan secara terus-menerus tersebut terjadi karena adanya proses Out Gassing, dari dalam bumi, yang salahsatunya mengeluarkan H2O dalam fasa gas.

Proses ini, juga menyebabkan suhu permukaan bumi, semakin menurun. Penurunan suhu permukaan bumi ini, berimplikasi adanya fenomena dimana air tidak lagi berada pada fasa gas, tapi dalam fasa cair dengan suhu permukaan bumi seperti sekarang.

Oleh karena itu, air dalam fasa cair ini mengisi cekungan-cekungan di permukaan bumi, sehingga terbentuklah samudera / lautan yang luas.

Selain, dari proses out gassing, terdapat hipotesis bahwa kandungan air yang besar di Bumi juga berasal dari luar angkasa. Seperti yang kita tahu bahwa terdapat benda-benda antariksa yang memiliki kandungan yang besar.

Di awal pembentukan bumi, terdapat kemungkinan, benda-benda langit tersebut jatuh ke bumi, sehingga menambah kadar H2O dalam bumi.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *