Tarian Adat Suku Padoe


Suku Padoe berasal dari suku bangsa Lili To Padoe Bangkano Kalende, yang terbagi menjadi 4 suku, yaitu, Padoe, Lasaelawali, Kinadu dan Konde. Dalam sejarah Mokole Matano, suku Padoe merupakan kelompok terakhir yang bergabung ke dalam wilayah Mokole Matano (Rahampu’u) dan dipimpin oleh seorang Mohola Padoe.

Saat ini, suku Padoe tersebar luas di wilayah Kabupaten Luwu Timur, meliputi daerah Matompi, Wawondula, Lioka, Tabarano, Tawaki, Tetenona, Malili, Angkona, Kawata dan sebagainya. Selain itu, rumpun suku Padoe juga ditemukan di daerah propinsi Sulawesi Tenggara dan di wilayah propinsi Sulawesi Tengah.

Suku Padoe merupakan satu dari 12 anak suku yang bergabung sebagai federasi di bawah kedatuan Luwu. Konon pejuang-pejuang dari suku Padoe (Pongkiari) berperan sangat penting dalam menyelamatkan kedatuan Luwu dari berbagai serangan musuh ketika bala tentara kerajaan telah berkurang jumlahnya karena gugur dalam peperangan.

Banyaknya Pongkiari dari suku Padoe di masa lalu yang terkenal dengan keberanian dan kehebatan mereka dalam berperang membela keselamatan kerajaan, membuat Datu Luwu memberikan penghormatan tersendiri kepada para Pongkiari dan seluruh warga suku Padoe.

Karena itu, apabila pemimpin dari Kedatuan Luwu menggelar sebuah hajatan, mereka selalu mempersiapkan tempat khusus untuk orang-orang Padoe dan suku Padoe tidak diminta memberikan upeti kepada Datu Luwu.

Sayangnya, oleh sebab yang belum terungkap oleh sejarah, peradaban suku Padoe dan peninggalan-peninggalan budayanya kini hanya sedikit yang bisa ditemukan kembali.

Selain beberapa hasil kerajinan pandai besi di Matano, gua yang berisi tengkorak dan tulang-belulang di sekitar danau Matano, ada juga sejumlah tari-tarianan adat Padoe. Setidaknya ada 4 tarian adat suku Padoe yang masih dikenal hingga saat ini, yaitu tari Moriringgo, Mongkaliboe, Moende dan Molaemba.

Tari Moriringgo

Moriringgo adalah tarian yang umumnya dipertunjukkan oleh pemuda-pemudi Suku Padoe. Tarian ini sangat menarik karena menampilkan gerakan yang dinamis dan kompak, memadukan kelincahan penari dalam melompat dengan permainan instrumen tari berupa kayu (alu) dan instrumen musik berupa gendang dan gong.

BACA JUGA:  Kisah Gareng dan Petruk

Tari Moriringgo

Tari Moriringgo dari Suku Padoe di Luwu Timur

Moriringgo merupakan tarian sukacita, yang biasa ditampilkan dalam perayaan pesta panen, penjemputan tamu yang dihormati serta perayaan kemenangan perang. Dengan pakaian adat lengkap, tari Moriringgo dipentaskan oleh 16-21 orang.

Enam orang memainkan kayu pemukul (alu), 2-4 orang menjadi penari utama (pelompat), 2 orang menari pedang (momaani), 3-4 orang menjadi penyanyi pengiring, 2-4 menjadi penari pendukung (moduku atau menari berputar) serta 2 orang menabuh gendang dan gong.

Kayu (alu) dipukul beradu dan dipukulkan ke lantai secara bergantian, sesuai irama gendang. Saat kayu dipukul ke lantai, para pelompat memasukkan kakinya di sela-sela kayu, dan secepatnya mengeluarkan kaki saat kayu kembali dipukul beradu. Bila kurang terlatih, kaki penari bisa terjepit oleh pukulan kayu yang beradu.

Yang menarik dari tarian ini adalah keterampilan para pelompat menari sambil melewati jajaran kayu, hentakan pukulan kayu dan irama gendang/gong yang dinamis dan penuh semangat serta syair lagu daerah yang menggambarkan kondisi masyarakat yang sarat nilai kebersamaan dan kerja keras.

Tari Mongkaliboe

Tari Mongkaliboe adalah tarian asli dari Suku Padoe. Tarian Mongkaliboe merupakan tarian kemenangan saat panglima perang (Pongkiari) kembali dari peperangan.

Tari Mongkaliboe Suku Padoe
Tari Mongkaliboe Suku Padoe di Luwu Timur

Karena kemenangannya, panglima perang disambut dengan tarian ini. Dalam acara penyambutan itu, harus ada hewan yang dikorbankan. Mongkaliboe berarti menombak atau menusuk babi untuk dikorbankan. Selain babi, sapi dan kerbau merupakan hewan-hewan yang biasa dikorbankan.

Tari Moende

Moende dilakukan oleh penari sebanyak 15 orang, bahkan bisa hingga jumlah yang tak terbatas. Penari memakai pakaian adat Suku Padoe atau pakaian lain sesuai kebutuhan. Tarian dilakukan dengan membentuk format lingkaran dan tidak berpegangan tangan.

Tari Ende Suku PadoeTari Moende oleh Suku Padoe

Gerakan kaki yang teratur dan dinamis membuat para penari berputar terus menerus dalam lingkaran. Kesenian ini sering ditampilkan pada acara syukuran, pesta panen (padungku) pesta pernikahan atau tahun baru.

BACA JUGA:  Misteri Tentang Lagu Nina Bobo

Tari ini dilakukan sambil bernyanyi, diiringi tabuhan gendang dan gong. Gendang dan gong merupakan alat musik yang paling lazim digunakan oleh Suku Padoe. Iramanya yang dinamis senantiasa membuat orang yang mendengarnya tak kuasa untuk tidak menggerakkan badan.

Tari Molaemba

Molaemba dilakukan oleh penari dengan jumlah yang tak terbatas. Penari memakai pakaian daerah Suku Padoe atau pakaian lain sesuai kebutuhan. Tarian dilakukan dengan membentuk format lingkaran, dengan berpegangan tangan disertai gerakan kaki dan tangan mengikuti irama lagu.

Tari Laemba - Molaemba Suku PadoeTari Molaemba oleh Suku Padoe

Sambil menari, para penari akan menyanyikan lagu-lagu berbahasa daerah ataupun bahasa Indonesia, yang kebanyakan bercerita tentang kampung halaman, kebaikan orang tua, perantauan, hubungan cinta, penderitaan dan lain-lain topik kehidupan orang Padoe. Sekali-kali, selepas satu lagi dinyanyikan, ada selingan pantun yang diucapkan secara bersahut-sahutan oleh para penari.

Tari ini sering dilakukan pada acara syukuran, pesta panen (padungku) pesta pernikahan atau tahun baru. Yang menarik, selain sebagai hiburan, tari ini juga dapat berfungsi sebagai olah raga. Para penari harus mengikuti irama gendang dan gong sambil terus berputar dalam lingkaran yang besar.

Molaemba milik Suku Padoe memang hampir sama dengan beberapa tarian di Sulawesi Tengah dan Sulawesi Tenggara. Suku Pamona (Sulteng) memiliki tari serupa yaitu Tari Kinde-Kinde (Dero) dan Suku Tolaki (Sultra) Tari Molulo.

Ini mungkin saja terjadi. Seperti yang kita tahu, puluhan suku asli di Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara dan Sulawesi Selatan merupakan suku-suku yang serumpun.

Suku Mori dan Bungku di Sulteng, Suku Tolaki di Sultra, Suku Padoe, Karunsie dan Tambee di Sulsel, dan suku-suku yang lain, merupakan suku-suku yang memiliki banyak kesamaan dalam kesenian dan budaya, termasuk bahasa dan dialek. Dari tari Molaemba, Kinde-kinde (dero) dan Molulo, yang berbeda adalah musik dan lagu yang dinyanyikan.

 
 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *