Hubungan Ratu Kidul Dengan Gunung Kelud

 

Mungkin banyak di antara kalian sudah pernah mendengar Sosok Ratu Pantai Selatan (Kanjeng Ratu Kidul). Yah,,memang benar Tokoh ini sangat populer di pulau Jawa. Sosok ini adalah penguasa Laut Selatan. Konon, Kanjeng Ratu Kidul mempunyai hubungan yang sangat erat dengan Panembahan Senopati Sang Penguasa Mataram.

 Gunung Kelud

 Gunung Kelud meletus 2014

 

Disamping itu, muncul juga pertanyaan bagi sebagian kalangan masyarakat, yang akhir-akhir ini di gemparkan dengan suatu peristiwa bencana alam yakni meletusnya Gunung Kelud yang berarti bahwa dari mitos yang berkembang akan muncul seorang pemimpin besar yang akan memimpin Nusantara ini dengan seadil-adilnya.

Selain itu, apakah letusan Gunung Kelud ada kaitannya dengan Ratu Pantai Selatan? Nah untuk menjawab teka-teki ini, kami akan sedikit membahas mengenai mitos tersebut, yang kami sajikan untuk para pembaca Info Misteri yang setia. Selamat Menikmati..!!!

Hubungan Ratu Kidul Dengan Gunung Kelud

Sebenarnya, ada garis imajiner yang menghubungkan antara Gunung Kelud dengan Laut Selatan. Tetapi, garis tersebut hanya bisa terlihat atau dilihat oleh orang-orang yang memiliki kemampuan adikodrati. Salah seorang di antaranya adalah Agnelia Rini Palupi SE, yang akrab disapa Rini. “Garis itu sangat nyata, bahwa antara Gunung Kelud dengan Laut Selatan memang terhubung.

Pernyataan Rini ini memang tidak berlebihan. Menurut Mbah Ladi Sang juru kunci Pasetran Gondomayit  (salah satu titik keramat di Pantai Tambakrejo). Begitu juga dengan sebagian besar warga pesisir Pantai Tambakrejo di kawasan Blitar Selatan, menyatakan bahwa “Setiap kali Kelud meletus, pasir di pantai ini pasti akan tampak berkurang”

Hubungan Ratu Kidul Dengan Gunung Kelud

Gambar Lukisan Kanjeng Ratu Kidul dan kereta kencana

Bagi warga pesisir Pantai Tambakrejo di Kecamatan Wonotirto, Mbah Ladi merupakan sosok yang sangat pantas dituakan. Setiap kaum nelayan menggelar ritual adat Larung Sesaji di Bulan Syuro, maka yang memimpin jalannya upacara adalah beliau. Tetapi, bukan lantaran karena pernyataannya orang yang cukup dihormati itu, tetapi jika sebagian warga mengemukakan kesaksiannya, ternyata senada dengan apa yang dikatakan Mbah Ladi.

Menurut beberapa nelayan di Pantai Tambakrejo, bahwa “Setiap kali Gunung Kelud meletus, maka pasir di pantai ini pasti berkurang. Sehingga Warga pesisir Pantai Tambakrejo, sudah tidak heran lagi atas keanehan tersebut. Memang ini sulit sekali untuk bisa dinalar dan sepertinya tidak masuk di akal. Tetapi, memang begitulah kenyataannya”.

Rini pun mencoba memvisualisasikan benang merah antara Gunung Kelud dengan pantai-pantai selatan di kawasan Blitar Selatan. Menurut Rini, secara metafisis memang ada lorong penghubung antara Gunung Kelud dan laut selatan. Melalui lorong inilah, mater­ial laut selatan bisa sampai ke Gunung Kelud.

Rinipun berujar “Jadi, sudah tidak mengherankan lagi, jika Kelud meletus material vulkanik yang dimuntahkan di antaranya terdapat jenis pasir yang sama persis den­gan yang ada di pesisir pan­tai selatan. Bahkan, seringkali warga di daerah bencana alam Gunung Kelud menemukan kerang-kerang lautan”.

Koneksitas metafisis antara Gunung Kelud den­gan pantai selatan Ini pulalah yang sempat dijadikan bahan retorika oleh warga Blitar yang berunjuk rasa menentang SK Gubernur Provinsi JawaTimur.

Gubernur Jawa Timur Soekarwo mempersilakan warga Blitar menempuh jalur hukum untuk menggugat Surat Keputusan Nomor 188/133/KPTS- 1013/2012 yang menyerahkan pengelolaan Gunung Kelud kepada Pemkab Kediri.

Selain gugatan melalui jalur hukum, warga Blitar menurut Gubernur Soekarwo bisa mendesak bupati dan Ketua DPRD Kabupaten Blitar untuk menemui Dirjen PU Kementerian Dalam Negeri. Warga diminta memperlihatkan peta wilayah yang menjadi bagian dari Kabupaten Blitar, serta memberikan alasan sosiokultural terkait kepemilikan Gunung Kelud.

Di hadapan Soekarwo, salah seorang warga yang mengaku tinggal di lereng Gunung Kelud mengatakan, bahwa keberadaan Gunung Kelud tak bisa dipisahkan dengan eksistensi warga Blitar. “Bahkan secara mistis, hanya warga Blitar yang tahu kapan Gunung Kelud akan meletus”.

Mengadu

pantai tambakrejo

Pantai Tambakrejo di Blitar

Atas sengketa “kepemi­likan” Gunung Kelud itu, Rini mengaku sangat meragukan sistem pengadilan manusia.”Saya lebih percaya dengan pengadilan alam, yang selalu apa adanya, dan sejujur-jujurnya.Tidak ada manipulasi di sana-sini, pasti obyektif karena alam tidak pernah punya tendensi, atau kepentingan-kepentingan yang sifatnya politis,” .

Atas dasar pemikiran itulah maka Rini memberanikan diri untuk menemui Sang Penguasa Gaib Gunung Kelud yaitu Lembu Suro dan Mahesa Suro. Tak hanya itu, warga Blitar setiap tahun juga menggelar acara labuh bumi di Gunung Kelud. Karena itu, budaya ataupun kultur masyarakat Blitar tak bisa dipisahkan dengan Gunung Kelud.

Untuk menemui Penguasa Gaib Gunung Kelud itu, sebelumnya Rini telah meminta restu terlebih dahulu menghadap Kanjeng Ratu Kidul di Pantai Serang. “Mengapa tidak di Tambakrejo, tetapi di Pantai Serang?”

Alasannya adalah menurut Rini, di Pantai Tam­bakrejo itu bukan Kanjeng Ratu Kidul, melainkan Nyi Roro Kidul.”Keduanya memang sama persis, bagai pinang dibelah dua. Tetapi sebenarnya, ada tanda-tanda khusus yang membedakan antara keduanya, dan menurut keyakinan Rini, yang di Pantai Serang itulah yang Kanjeng Ratu Kidul.

Dalam pertemuan astralnya dengan Kanjeng Ratu Kidul, Rini mengaku minta restu untuk menemui penguasa spiritual Gunung Kelud. Setelah restu terse­but didapatkannya, barulah ia bersama paranormal Herry Langit dan beberapa warga Blitar lainnya melangsungkan ritual.

Langit yang semula mendung, tiba-tiba saja menjadi terang benderang. Langit pun bertabur bintang gemintang, dan sekeping rembulan tampak purnama penuh. Salah satu puncak Gunung Kelud, yang lazim disebut Gajah Mungkur yang semula tertutup kabut menjadi terlihat samar-samar.

Tak ada gerakan demonstratif, selama proses ritual berlangsung. Hanya saja, setelah meditasi beberapa waktu, Rini mengatakan bahwa dirinya melihat sebuah penampakan di pucuk Gunung Kelud. “Saya seperti melihat sosok raksasa yang hanya mengenakan cawat saja. Sosok itu berkelebatan di puncak Gunung Kelud, dan dalam keyakinan saya bahwa beliau itu adalah Joto Suro”.

Rapat Astral di Penataran

Bagi Rini, secara metafisis Candi Penataran itu sebenarnya adalah semacam pendopo khusus, tempat pertemuan-pertemuan antara Kanjeng Ratu Kidul dan penguasa gaib Gunung Kelud. “Rapat-rapat penting yang menyangkut hubungan dan persoalan keduanya, hampir selalu diadakan di Candi Penataran”. Sejarah pun mencatat, bahwa keberadaan Candi Penataran nyaris tidak bisa dipisahkan dengan eksistensi Gunung Kelud.

Yang jelas, menurut Rini pasukan Kanjeng Ratu Kidul yang dikerahkan untuk membantu terlaksananya “hajatan Gunung Kelud” sudah siap siaga, jika sewaktu-waktu dibutuhkan. Ibaratnya, Tentara Lampor (Pasukan Khusus Kanjeng Ratu Kidul) itu, hanya tinggal menunggu aba-aba saja.

Jika penguasa Kelud sudah memberikan sinyal kepada Kanjeng Ratu Kidul, maka selanjutnya Beliaulah yang akan mem­berikan komanda ke pasukannya itu.

Baik dalam pertemuannya dengan Kanjeng Ratu Kidul atau dengan Jata Suro, Rini tidak meminta apapun atas status kepemilikan Gunung Kelud. Yang dia minta, hanyalah ditunjukkannya jalan kebenaran dan keputusan yang seadil-adilnya.

Rini pun mengaku telah mendapatkan semacam petunjuk atau bisikan, bahwa antara Pemkab Blitar dan Pemkab Kediri menurut Kanjeng Ratu Kidul dan Jata Suro sama-sama memiliki kesalahan. Tetapi mana yang lebih salah antara kedua pemerintah daerah yang sedang bersengketa itu, Rini tidak mau menyebutkan.

“Yang jelas, masih ada pemimpin Blitar yang memi­liki hutang kepada Kanjeng Ratu Kidul, dan ini mungkin juga masuk perhitungan Kanjeng Ratu Kidul atas sanksi yang akan diberikan,” ungkap Rini.

Siapakah Pemimpin Blitar itu? Apakah Bupati Blitar?. Yang Jelas yang di sebutkan adalah Pemimpin. Bisa saja pemimpin itu adalah Muspida,  Bupati,  Kapolres, Dandim atau Ketua DPRD. Semua itu boleh kita sebut sebagai pemimpin Blitar.

“Yang jelas, semua itu sudah dirapatkan oleh Kanjeng Ratu Kidul dan Joto Sura di Candi Penataran,” tandasnya. “Menyangkut sanksi atas kesalahan kedua pemerintahan daerah itu sendiri,” ujarnya.

Boleh percaya atau tidak..!!

Wallahu alam bissawab..

 
 

TOPIK LAINNYA

selendang kuntilanak, Syekh subakir vs ratu kidul, ciri keturunan panjalu, ciri ciri titisan sunan kalijaga, ciri-ciri keturunan jaka tingkir, lukisan asli raden kian santang, gunung mutih pemalang, siapakah cahaya sang hyang nirean, gunung dempo, Maung Gunung Anten

JANGAN LEWATKAN